MobilKomersial.com — Dinamika energi global akibat ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia berdampak langsung pada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Indonesia.
Kondisi ini pun tentu memicu peningkatan biaya operasional mobilitas harian bagi masyarakat, di saat aktivitas rutin seperti bekerja dan perjalanan keluarga tetap harus berjalan.
Baca Juga: Intip Keunggulan Lepas E4 EV, SUV Listrik Sporty Yang Siap Di Jual di Indonesia
Dengan begitu, di tengah tantangan ekonomi tersebut, pemilihan jenis kendaraan kini mulai bergeser ke arah pertimbangan efisiensi biaya penggunaan jangka panjang dan perawatan yang lebih sederhana.
Teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) hadir sebagai opsi relevan karena menawarkan pengisian daya baterai dari sumber listrik eksternal, berbeda dari hybrid konvensional yang hanya mengandalkan mesin bensin dan regenerative braking.

Dengan kapasitas baterai lebih besar, kendaraan PHEV dapat beroperasi penuh menggunakan tenaga listrik untuk mobilitas dalam kota, sementara mesin bensin baru aktif otomatis saat daya baterai berkurang atau saat membutuhkan jarak tempuh lebih jauh.
Data mobilitas menunjukkan bahwa mayoritas perjalanan harian masyarakat Indonesia berada di bawah 30 km, bahkan 88% di antaranya berada di bawah 60 km. Jarak ini sepenuhnya dapat diakomodasi oleh mode listrik murni.
Dari aspek operasional, kendaraan bensin konvensional dengan asumsi harga BBM Rp 16.250 per liter memerlukan biaya energi sekitar Rp 33.750 hingga Rp 68.750 per hari, atau mencapai Rp 843.750 hingga Rp 1.718.750 per bulan dengan estimasi 25 hari penggunaan.
Namun sebaliknya, penggunaan PHEV berbasis daya listrik diklaim hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 21.000 hingga Rp 43.169 per hari, atau setara dengan Rp 525.000 hingga Rp 1.079.225 per bulan.
Salah satu kendaraan yang menerapkan sistem ini adalah Lepas L8. Model ini memiliki jangkauan berkendara dalam mode listrik murni hingga lebih dari 100 km, sehingga mampu memenuhi kebutuhan harian tanpa mengaktifkan mesin bensin sama sekali.

Ketika daya baterai menurun atau pengemudi memerlukan tenaga tambahan, mesin bensin akan segera aktif secara otomatis untuk mengambil alih secara halus tanpa mengganggu kenyamanan berkendara.
Melalui kombinasi baterai dan bahan bakar yang terisi penuh, pengujian internal mencatat total jarak tempuh Lepas L8 dapat mencapai lebih dari 1.300 km, setara dengan rute perjalanan Jakarta-Bali atau Jakarta-Yogyakarta pulang-pergi (PP) tanpa pengisian ulang.
Selain fungsi penggerak, energi baterai pada Lepas L8 juga dilengkapi dengan fitur Vehicle-to-Load (V2L). Fitur ini memungkinkannya berfungsi sebagai sumber daya listrik portabel untuk mengoperasikan perangkat elektronik eksternal di luar ruangan.
Kendati demikian, melalui integrasi teknologi ini, kendaraan tidak lagi sekadar menjadi alat transportasi, melainkan bertransformasi menjadi bagian pendukung produktivitas sehari-hari yang efisien dan fleksibel.











