MobilKomersial.com — Keputusan PT Agrinas Pangan Nusantara mendatangkan pikap Mahindra Scorpio dari India untuk menunjang program Koperasi Desa Merah Putih memantik diskusi hangat di industri otomotif tanah air.
Langkah impor ini menjadi sorotan karena Indonesia sebenarnya memiliki basis produksi kendaraan niaga yang cukup kuat melalui berbagai pabrikan lokal, salah satunya Wuling Motors.
Baca Juga: Proyek Kopdes Merah Putih, DFSK Siapkan Pikap Super Cab Jika Diminta
Menanggapi fenomena tersebut, Wuling Motors menegaskan bahwa mereka memiliki kapabilitas yang mumpuni untuk memenuhi kebutuhan kendaraan operasional di dalam negeri.
Melalui lini produk Formo Max, Wuling sebenarnya sudah lama bermain di segmen pikap ringan yang menyasar pelaku usaha kecil hingga menengah. Keunggulan utamanya terletak pada status produksi lokal yang dilakukan langsung di fasilitas pabrik Cikarang, Jawa Barat.

Marketing Director Wuling Motors, Ricky Christian, menjelaskan bahwa sejak awal menancapkan kuku di Indonesia, perusahaan telah berinvestasi besar pada fasilitas manufaktur.
Pabrik Wuling saat ini memiliki kapasitas produksi mencapai 120.000 unit per tahun, sebuah angka yang secara teoritis mampu menampung lonjakan permintaan tambahan dari proyek-proyek strategis.
“Wuling memiliki pabrikan lokal di Indonesia untuk memproduksi berbagai kendaraan, termasuk kendaraan niaga. Jadi, kami juga memiliki produk di segmen komersial yang bisa dipasarkan apabila dibutuhkan,” ujar Ricky saat ditemui di Jakarta pada Jumat (13/3/2026).
Meski memiliki kapasitas sisa yang luas, Ricky memberikan catatan edukatif mengenai alur kerja industri otomotif. Ia meluruskan bahwa produksi mobil tidak bisa terjadi dalam semalam.
Menurutnya, industri ini menggunakan sistem make to stock atau produksi berdasarkan perencanaan matang. Jika muncul permintaan dalam skala besar secara mendadak, diperlukan waktu untuk koordinasi material dan kesiapan komponen.
Baca Juga: Sentil Penggerak 4×2, Begini Tanggapan Suzuki Soal New Carry yang Tak Masuk Proyek Desa Merah Putih

“Kalau misalnya ada permintaan dalam jumlah besar tentu ada proses yang harus disiapkan, termasuk waktu untuk menyiapkan material dan komponen. Jadi tidak bisa langsung diproduksi secara instan,” tuturnya lebih lanjut.
Terkait program Koperasi Desa Merah Putih yang justru memilih produk impor dari India, pihak Wuling turut mengakui belum ada pembicaraan formal yang terjadi antara kedua belah pihak.
Namun demikian, perusahaan menyatakan posisi mereka yang sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan pemerintah maupun badan usaha lainnya demi mendukung kemajuan ekonomi desa.
“Untuk saat ini kami belum ada komunikasi terkait hal itu (program Koperasi Desa Merah Putih). Tapi pada prinsipnya kami terbuka apabila ada kebutuhan yang sesuai dengan produk yang kami miliki,” pungkas Ricky.
Diketahui, pikap Wuling Formo Max memiliki total panjang dimensi mencapai 5.135 mm, lebar 1.725 dan tinggi 1.740, memiliki wheelbase hingga 3.160 mm serta memiliki radius putar sekitar 6,2 m dan kapasitas tangki bahan bakar sebesar 42 liter.

Sorotan keunggulan lain dari pikap Wuling Formo Max ini adalah ukuran bak kargonya yang luas yang memiliki dimensi panjang 2.695 mm, lebar 1.725 mm dan tinggi 390 mm serta memiliki daya angkutnya yang mencapai lebih dari 1.000 kg atau 1 ton.
Soal performa, pikap ini membawa mesin 4-silinder segaris, DOHC berkapasitas 1.485 cc (1.5L) yang menghasilkan tenaga 98 dk di putaran 5.800 rpm dan torsi 140 Nm di putaran 3.400-4.400 rpm dengan transmisi manual 5-percepatan.
Baca Juga: Menilik Kembali Keunggulan Pikap Wuling Formo Max, Mobil Niaga Rasa MPV
Wuling Formo Max ini juga sudah memiliki fitur keselamatan yang cukup mumpuni mulai dari sistem pengereman Anti-lock Braking System (ABS), Electronic Brakeforce Distribution (EBD), hingga pengingat pemakaian sabuk pengaman serta alarm anti-maling.
Tersedia dengan pilihan warna hitam, putih, dan silver, Wuling Formo Max kini telah dijual dengan harga Rp168.000.000 untuk varian Standard dan Rp176.000.000 untuk varian AC. Seluruh harga tersebut on the road (OTR) DKI Jakarta tahun 2026.











