MobilKomersial.com — Sektor transportasi komersial di ranah pertambangan Indonesia memasuki babak baru yang modern. Langkah elektrifikasi kini menjangkau area operasional pertambangan dengan performa yang semakin dapat diandalkan oleh para pelaku bisnis.
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyerahkan dua unit bus listrik Arjuno ukuran 8 meter kepada PT Bagong Dekaka Makmur atau PO Bagong. Momen serah terima resmi ini berlangsung di Malang sebagai bagian dari penguatan armada hijau pertambangan.
Baca Juga: VKTR dan PO Bagong Luncurkan Bus Listrik Arjuno, Sekali Cas Tembus 350 Km!
Penggunaan kendaraan listrik ini disesuaikan untuk mobilitas pekerja serta operasional internal area tambang. Kehadiran bus Arjuno membuktikan fleksibilitas teknologi ramah lingkungan di lingkungan kerja berdaya utilisasi sangat tinggi.
“Keputusan Bagong Dekaka Makmur untuk kembali menggunakan kendaraan listrik menunjukkan bahwa industri lokal memiliki kemampuan untuk menjawab kebutuhan,” ujar A. Ardiansyah Bakrie, Direktur Utama VKTR, dikutip Selasa (20/10/2026).

Ardi menegaskan komitmen perusahaan dalam menghadirkan armada yang fungsional di lapangan. “Bagi VKTR, ini bukan hanya tentang menyerahkan kendaraan, tetapi tentang menghadirkan solusi yang benar-benar dapat bekerja di lapangan,” jelasnya.
Secara spesifikasi, bus listrik Aejuno sepanjang 8 meter ini mampu mengangkut hingga 25 penumpang. Kendaraan komersial ini dibekali baterai berkapasitas 210 kWh yang sanggup menempuh jarak maksimal hingga 350 kmsekali pengisian.
Sistem pengisian daya cepat berteknologi DC memungkinkan baterai terisi penuh dalam waktu 90 menit. Hal tersebut membuat jadwal operasional armada tambang yang ketat dapat berjalan optimal tanpa kendala pengisian energi.
Baca Juga: Laris Diborong Pengusaha, Pesanan Bus dan Truk Listrik VKTR Melonjak Drastis!
Penggunaan bus EV ini memberikan operasional tanpa emisi gas buang serta tingkat kebisingan minimal. Selain itu, potensi efisiensi biaya operasional jangka panjang menjadi keunggulan total cost of ownership yang ditawarkan VKTR.
Direktur Utama PT Bagong Dekaka Makmur, Budi Susilo, memberikan pandangannya terkait armada baru ini. “Bagi kami, penggunaan kendaraan listrik bukan hanya tentang mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga bagaimana mampu menjawab kebutuhan,” terangnya.
Sebelumnya, Bagong Dekaka Makmur telah mengoperasikan transporter listrik Lokon untuk area tambang. “Pengalaman positif bersama Lokon dan VKTR semakin memperkuat keyakinan kami bahwa kendaraan listrik dapat menjadi alternatif,” tegas Budi.
Pengembangan bus listrik Arjuno melibatkan kolaborasi strategis antara VKTR dengan Laksana Karoseri lokal. Seluruh proses perakitan armada dilakukan di dalam negeri untuk memperkuat industri manufaktur otomotif nasional.
Langkah ini sekaligus membangun ekosistem komersial EV yang tangguh di tanah air. Sinergi ini mencakup penguatan rantai pasok, penyediaan tenaga kerja lokal, hingga jaminan layanan purnajual dan dukungan teknis secara menyeluruh.
VKTR terus mendorong pelaku industri otomotif dan operator pertambangan untuk melakukan evaluasi elektrifikasi. Kehadiran EV terbukti mampu menyelaraskan efisiensi bisnis dengan komitmen transisi energi bersih di Indonesia.
Ardiansyah Bakrie menutup dengan ajakan kolaborasi bagi seluruh pemangku kepentingan industri. “Kami terbuka untuk berkolaborasi dengan lebih banyak operator dan pelaku industri untuk menghadirkan kendaraan yang memberikan value,” pungkasnya.










