MobilKomersial.com — PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) terus menggenjot akselerasi elektrifikasi armada secara masif demi mewujudkan udara Jakarta yang lebih bersih. Langkah ini menjadi fokus utama dalam transformasi transportasi publik modern.
Komitmen nyata tersebut dibuktikan dengan keberhasilan mengoperasikan total 500 unit bus listrik yang disebar di seluruh jaringan layanan. Kehadiran armada ramah lingkungan ini menandai era baru mobilitas bebas emisi kota.
Baca Juga: Alasan Damri Mampu Operasikan Hingga 316 Bus Listrik untuk Layanan Transjakarta
Percepatan transisi menuju armada listrik penuh dilakukan guna mendukung target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara konsisten. Pemprov DKI membidik penyediaan 50% angkutan umum bebas polusi pada tahun 2027 mendatang.
Tak berhenti di situ, target elektrifikasi ditargetkan mencapai 100% penuh pada tahun 2030. Langkah strategis ini diharapkan dapat secara drastis memangkas tingkat polusi udara serta emisi karbon di Ibu Kota Jakarta.

Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta, Mohamad Deddy Gamawan (Dega), menegaskan arah kebijakan ini pada Teras Urban Talkshow bertajuk Advancing Sustainable Urban Mobility di University Club Jakarta, Minggu (30/8).
“Untuk mencapai target tersebut, kami menerapkan strategi peremajaan armada, pengadaan bus listrik baru, serta program retrofit. Pada tahun 2030, sebanyak 96% kontrak operator eksisting ditargetkan telah bertransformasi,” ujarnya, dikutip Rabu (2/8/2026).
Pengembangan armada listrik yang agresif berjalan selaras dengan penguatan ekosistem transportasi secara menyeluruh. Transjakarta terus mengoptimalkan performa layanan BRT maupun non-BRT agar semakin terhubung dan andal.
Baca Juga: Target Pemprov DKI Jakarta 10.047 Bus Listrik, Baru Tercapai 500 Armada
Dega menekankan bahwa elektrifikasi layanan harus diimbangi konektivitas yang kuat demi kenyamanan penuh mobilitas warga. Perluasan jangkauan dan integrasi antar moda menjadi kunci utama efisiensi moda publik masa kini.
“Transjakarta terus berupaya menghadirkan layanan yang mampu menjangkau lebih banyak wilayah sekaligus mempermudah perjalanan masyarakat melalui integrasi antarmoda. Saat ini coverage area sudah mencapai 92% area DKI,” ujar Dega.
Saat ini Transjakarta mengoperasikan 240 rute yang mencakup koridor BRT, feeder, Mikrotrans, Transjabodetabek, bus ke rusun, hingga Royaltrans. Jaringan luas ini dirancang kuat demi memaksimalkan konsep first-and-lastmile connectivity.

Konektivitas fisik armada listrik dan feeder terhubung strategis di berbagai simpul penting. Penumpang dapat berpindah ke Stasiun MRT Bundaran HI, ASEAN, Lebak Bulus, serta Stasiun LRT Setia Budi, Rasuna Said, hingga Cawang.
Selain keterhubungan fisik, kemudahan masyarakat makin disempurnakan lewat integrasi tarif hemat lintas moda. Warga bisa menikmati plafon tarif maksimal Rp10.000 untuk durasi perjalanan yang cukup panjang hingga 180 menit.
Baca Juga: Bisa Tempuh 675 Km Sekali Cas! Begini Spesifikasi Bus Listrik Yutong IC12E Generasi Baru
“Integrasi bukan sebatas keterhubungan halte atau rute, melainkan juga kemudahan perpindahan penumpang antar-moda. Penguatan integrasi fisik, rute, dan tarif menjadi prioritas utama pengembangan,” tambah Dega menutup pemaparannya.
Melalui akselerasi bus listrik dan integrasi yang semakin kokoh, Transjakarta membuktikan komitmennya menghadirkan angkutan umum yang modern. Jakarta kian mantap menapak masa depan mobilitas berkelanjutan yang aman dan hijau.











