MobilKomersial.com — Dunia transportasi komersial global kini memasuki era baru yang menuntut efisiensi tinggi tanpa mengorbankan performa operasional armada serta kelestarian lingkungan. Scania resmi menghadirkan bus Plug-in Hybrid (PHEV).
Pengembangan teknologi hibrida ini didasarkan pada platform mesin Scania Super yang tangguh. Filosofi arsitektur modular ini memberikan fleksibilitas luar biasa bagi pengusaha bus dalam mengoptimalkan efisiensi rute.
Baca Juga: Canggihnya Fitur Baru Scania ProDriver, Sopir Truk Kini Punya ‘Dosen’ Virtual
Jantung mekanis bus mengandalkan mesin diesel 13 liter yang ditingkatkan di setiap aspek. Mesin 6-silinder ini dibekali Twin-SCR Euro 6, Heat Gas Recirculation, serta ketahanan tekanan silinder puncak mencapai 250 bar.
Scania menyediakan dua opsi output daya mesin 13 liter pada varian PHEV, yaitu 420 dk dan 460 dk. Kedua varian ini kompatibel dengan bahan bakar terbarukan seperti HVO dan FAME yang dapat memangkas emisi karbon 83%.


Sistem elektrifikasi didukung motor listrik ganda terintegrasi bertenaga 145 kW. Penggunaan dua unit motor listrik ini menyuplai torsi melimpah sejak awal dan memberikan dorongan instan saat melaju di jalan bebas hambatan.
Penyaluran tenaga mengandalkan transmisi Powershift 6-percepatan terbaru yang menggantikan Opticruise konvensional. Transmisi presisi ini menyalurkan limpahan torsi raksasa tanpa jeda untuk kenyamanan terbaik penumpang.
Sumber daya listrik disimpan pada paket baterai berkinerja tinggi buatan internal Scania berkapasitas 89 kWh. Baterai ini dilengkapi manajemen suhu dan sistem pendingin canggih agar menjaga umur sel daya tetap awet.
Bus PHEV Scania sanggup melaju penuh dalam mode murni listrik (zero-emission) sejauh 80 km. Proses pengisian ulang baterai didukung pengisian cepat DC CCS Type 2 berarus 200A dengan kemampuan daya hingga 130 kW.
Baca Juga: Scania Rilis Truk Hybrid Militer Pertamanya, Bisa Sembunyi dari Radar Akustik Musuh?


Baca Juga: Bedah Teknologi IFS pada Sasis Scania K-Series yang Bikin PO Bus Papan Atas Indonesia Kepincut
Teknologi hibrida ini mampu menghemat penggunaan bahan bakar hingga 40%. Pengemudi dapat memilih empat mode berkendara: murni listrik, hibrida otomatis, penyeimbang daya, serta pengisian paksa sesuai medan jalan.
Komponen pendukung sasis juga dielektrifikasi melalui sistem kemudi hidrolik berbasis listrik serta kompresor udara elektrik. Langkah ini efektif memangkas beban mekanis mesin utama agar fokus menyalurkan daya roda.
Sektor pengereman didukung Electronic Brake System (EBS 9) bersertifikat ISO. Selain exhaust brake 200 kW, tersedia opsi Compression Release Brake 350 kW serta pengereman pembantu hidrolik Retarder 4700 D bertorsi 4.700 Nm.
Penyaluran daya ke roda menggunakan gardan belakang R660 yang sanggup menahan lonjakan torsi listrik. Tersedia pula opsi gardan R716 berefisiensi tinggi serta R756 yang lebih ringan 27 kg untuk kebutuhan beban berat.


Modul belakang sasis K-series memberikan kebebasan fleksibilitas desain bagi karoseri lokal. Pilihan overhang rear berkisar dari 3.080 mm hingga 4.780 mm guna menyesuaikan berbagai kebutuhan kapasitas muat bus.
Konfigurasi roda bus PHEV ini tersedia dalam dua opsi chassis utama, yaitu varian dua as roda 4×2 (jarak antar as 3.280 mm) serta tiga as roda 6×2*4 dengan fitur as roda belakang pembelok otomatis tipe AM461.
Baca Juga: Ini Spesifikasi Mesin Diesel V8 Truk Scania Yang Legendaris
Manajemen operasional didukung platform digital My Scania dan fitur Scania Zone. Geofencing pintar ini mendeteksi posisi bus dan secara otomatis beralih ke mode murni listrik saat memasuki zona emisi rendah kota.
Kesiapan armada dijamin melalui program Scania Flexible Maintenance berbasis analisis data real-time. Didukung pelatihan Scania Driver Training, pengemudi dilatih menguasai teknik berkendara efisien dan regenerasi daya.










