MobilKomersial.com — Pemerintah Indonesia mempertegas langkah nyata demi membenahi persoalan armada truk berdimensi dan bermuatan berlebih alias Over Dimension Over Loading (ODOL) guna menekan risiko kecelakaan dan kerusakan jalan.
Menteri Koordinator Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono menegaskan komitmen tersebut pada ajang Indonesia Zero Emission Heavy-Duty Vehicle (IZEHDV) Summit 2026 di Jakarta, Kamis (23/7/2026) kemarin.
Baca Juga: India Diam-Diam Geser China dalam Invasi Kendaraan Niaga Impor di Indonesia
Langkah strategis ini diambil guna menekan risiko kecelakaan dan kerusakan jalan. Dimana, persoalan kronis ini dinilai telah bertahun-tahun membahayakan nyawa dan menyedot kas APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).
Di samping isu keselamatan, sektor transportasi tercatat menyumbang sekitar 22%emisi karbon nasional. Di antara berbagai jenis moda transportasi darat, truk menjadi penyumbang emisi paling mendominasi.

“Kendaraan ODOL membahayakan keselamatan pengguna jalan dan menyebabkan kerusakan jalan yang sangat besar,” ujar AHY mengutip siaran resminya. Ia juga menekankan bahaya kerugian sosial dan ekonomi ini tak boleh lagi dibiarkan terus berlarut.
AHY mengungkapkan bahwa biaya pemeliharaan infrastruktur akibat pelanggaran muatan amat fantastis. “Setiap tahun pemerintah harus mengalokasikan lebih dari Rp 40 triliun untuk preservasi jalan,” tegas beliau lagi.
Sebagai solusi terpadu, pemerintah menyiapkan skema insentif konversi truk BBM ke armada listrik. Langkah ini menjadi jurus ampuh untuk menekan polusi udara sekaligus menertibkan armada muatan berlebih di jalan.
Baca Juga: Isuzu Bocorkan Trik Mesin Diesel Tetap Awet Pakai BBM B50, Komponen Ini Wajib Rutin Diganti!
“Oleh karena itu, kita sedang upayakan strategi yang benar-benar bisa mengurangi penggunaan kendaraan ODOL, termasuk memberikan insentif kepada mereka untuk melakukan konversi,” tutur Menko AHY menegaskan.
Ia menambahkan, pengadopsian teknologi hijau akan dioptimalkan pada lini logistik. “Kalau kemudian mengadopsi kendaraan logistik berbasis listrik, apakah kereta ataupun kontainer lainnya,” sambung Menko AHY.
Guna mendukung transisi tersebut, pemerintah merancang peta jalan penurunan emisi darat secara komprehensif. Peta jalan mencakup pengembangan low emission transport, low emission vehicle, serta low emission fuels.

“Kita mendorong modernisasi kendaraan, peningkatan efisiensi operasional, penguatan tata kelola, penyediaan skema pembiayaan inovatif, serta pengembangan sumber daya manusia yang kompeten,” tambah AHY.
Penanganan penataan logistik ini dipastikan berjalan bertahap, tegas, serta terintegrasi. Sinergi kementerian, kepolisian, hingga pelaku usaha logistik menjadi kunci utama keberhasilan transisi hijau ini.
Baca Juga: Sering Jadi Pemicu Rem Blong, Ini Bedanya Truk Retarder dan Non-Retarder!
Selain percepatan truk listrik, optimalisasi jalur kereta api logistik dan sektor maritim juga digenjot. Diversifikasi moda ini disiapkan demi mengurangi ketergantungan pada moda transportasi darat raya.
“Ketika kita mampu mengurangi kendaraan ODOL, kita bukan hanya menekan emisi karbon, melainkan juga mengurangi angka kecelakaan,” pungkas Menko AHY mempertegas arah visi pemerintah demi sistem logistik efisien.











