MobilKomersial.com — Adopsi kendaraan listrik di Indonesia tengah mengalami akselerasi yang masif. Pemerintah terus mendorong transisi energi bersih, tidak hanya untuk kendaraan pribadi, tetapi juga pada sektor transportasi massal.
Beberapa operator bus bahkan sudah mulai melirik dan menguji coba armada bus listrik di jalur antarkota. Namun, di tengah euforia elektrifikasi ini, raksasa transportasi darat PT Sinar Jaya Megah Langgeng (PO Sinar Jaya) justru memilih langkah yang sangat berhati-hati.
Baca Juga: Borong 32 Sasis Mercedes-Benz, Ini Alasan Rahasia PO Sinar Jaya Ogah Lirik Merek Eropa Lain!
Meski kompetitor mulai curi start, PO Sinar Jaya menegaskan tidak akan terburu-buru menerjunkan bus listrik untuk melayani rute jarak jauh. Bagi mereka, faktor kesiapan ekosistem seperti charging station menjadi pertimbangan utama.
Founder atau pendiri PO Sinar Jaya, H. Rasidin Karyana, mengungkapkan bahwa pihaknya terus memantau pergerakan para rival di industri otobus, terutama beberapa operator berbasis di Jawa Tengah yang sudah mulai melakukan penetrasi pada teknologi nir-emisi ini.

“Kami memantau pergerakan di lapangan. Sudah ada beberapa operator yang mulai jalan, seperti PO Sumber Alam. Saya juga mendengar salah satu PO di Jawa Tengah, yakni PO Efisiensi,” ungkapnya di sela event Busworld SEA 2026, Jumat (22/5/2026) kemarin.
Manajemen Sinar Jaya pun menilai bahwa infrastruktur pengisian daya yang ada saat ini belum ideal, khususnya untuk mendukung manajemen operasional bus antarkota antarprovinsi (AKAP) berkepadatan tinggi.
Ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) memang sudah tersebar untuk kendaraan listrik penumpang. Namun, SPKLU khusus kendaraan niaga besar baik untuk bus atau truk masih sangat minim di sepanjang tol Trans-Jawa.
Bagi perusahaan dengan skala armada ribuan unit, keterbatasan ini membawa resiko besar, mulai dari potensi downtime akibat antrian pengisian daya, hingga masalah manajemen waktu perjalanan (travel time) yang bisa merugikan penumpang.
Baca Juga: Busworld SEA 2026: Sinergi Kalista dan INVI Dorong Target 10 Ribu Bus Listrik Transjakarta

Baca Juga: Bus Listrik Mercedes-Benz eCitaro Kini Pakai Baterai NMC4 Generasi Baru, Begini Keunggulannya
“Untuk saat ini kita realistis aja, menjalankan armada bus listrik untuk jarak jauh membutuhkan kalkulasi total cost of ownership (TCO) dan mitigasi risiko yang matang, di mana ketersediaan daya menjadi motor utamanya,” ucapnya.
“Jadi, fokus utama pada bus listrik sebenarnya terletak pada ekosistem pendukungnya. Kendala terbesar saat ini adalah ketersediaan infrastruktur pengisian daya (charging station) yang memadai di sepanjang rute,” sambung pria yang akrab disapa Pak Haji itu.
Dengan demikian, atas dasar pertimbangan teknis tersebut, PO asal Bekasi ini masih memprioritaskan optimalisasi armada bermesin konvensional (internal combustion engine/ICE) berbasis diesel.
Menurutnya, mesin solar dinilai jauh lebih andal dalam menjaga utility rate armada karena jaringan pengisian bahan bakar dan kemudahan maintenance-nya sudah mapan. Pilihan ini dinilai paling aman untuk mengamankan ribuan izin trayek aktif yang dimiliki perusahaan.

“Untuk saat ini, operasional menggunakan mesin diesel (solar) jauh lebih terukur dan minim resiko operasional. Dari sudut pandang manajemen armada, skema ini masih jauh lebih mudah dan aman untuk dijalankan,” tegas Pak Haji.
Meskipun menerapkan strategi wait and see, bukan berarti PO Sinar Jaya yang dikenal sebagai salah satu PO yang memiliki rekor MURI terbanyak atas pelayananya menutup mata terhadap perkembangan teknologi ramah lingkungan.
Baca Juga: Sejarah PO Sinar Jaya, Pemegang Rekor MURI Pelayanan Terbaik Berturut-turut
Perusahaan transportasi raksasa ini tetap membuka peluang untuk melakukan diversifikasi ke armada elektrik di masa depan, sembari menunggu regulasi pemerintah dan infrastruktur nasional benar-benar matang.
“Tentu tidak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti Sinar Jaya akan masuk ke ceruk pasar bus listrik. Namun untuk saat ini, kami memilih untuk mengamati perkembangan pasar dan kesiapan regulasinya terlebih dahulu,” pungkas Rasidin.











