MobilKomersial.com — Periode angkutan lebaran 2026, Damri mencatat melayani lebih dari 2,8 juta pelanggan meningkat sekitar 35 persen dibandingkan realisasi angkutan lebaran 2025 sebesar 2,06 juta pelanggan.
Peningkatan ini sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat yang berlangsung sejak sebelum hingga setelah hari raya, didukung oleh berbagai faktor seperti fleksibilitas waktu perjalanan serta kebijakan work from anywhere (WFA).
Corporate Communication Damri, P. Septian Adri S megatakan bahwa selama pelaksanaan angkutan lebaran, pergerakan pelanggan mulai meningkat sejak H-10 lebaran dan mencapai puncaknya pada 17 Maret 2026.
Baca juga: Damri Catat 114 Ribu Masyarakat Gunakan Layanan Bus Bandara Periode Lebaran 2026

“Dengan peningkatan pelanggan lebih dari 35 persen, tantangan kami bukan hanya pada volume, tetapi bagaimana menjaga perjalanan tetap berjalan stabil di tengah pergerakan yang semakin dinamis,” kata Septian, Jumat (3/4/2026).
Menurut Septian, sebelum kembali menunjukkan peningkatan pada fase arus balik di sekitar 25 Maret 2026. pola ini mencerminkan bahwa perjalanan masyarakat tidak lagi terpusat pada satu waktu tertentu, melainkan berlangsung lebih dinamis.
“Pengelolaan operasional kami fokus pada menjaga kelancaran layanan di berbagai titik perjalanan. Untuk mengakomodasi tingginya mobilitas tersebut, kami mengoperasikan lebih dari 1.500 unit armada yang disiagakan secara optimal hingga mencapai sekitar 1.800 unit pada periode puncak,” ujarnya.
Baca juga: Sebelum Operasional, Damri Pastikan Bus Listrik dalam Kondisi Optimal
Pengoperasian unit tersebut, kata Septian dengan frekuensi perjalanan mencapai lebih dari 108 ribu ritase selama periode angkutan lebaran 2026, atau meningkat dua persen dibandingkan periode sebelumnya.
“Penguatan layanan dilakukan melalui pengelolaan operasional yang adaptif, termasuk pemantauan perjalanan secara berkala serta koordinasi intensif di titik-titik dengan mobilitas tinggi,” ungkapnya.
Selama periode angkutan lebaran, tambah Septian, Damri memperkuat pengawasan operasional melalui Central Control Room selama 24 jam, serta menyiagakan sejumlah titik pemantauan dan dukungan teknis di berbagai wilayah guna memastikan kesiapan armada dan kru tetap optimal.
“Kami melihat pergerakan pelanggan tahun ini lebih menyebar, sehingga pengelolaan operasional juga harus lebih adaptif. Seluruh tim, baik di lapangan maupun di belakang layar, bekerja untuk memastikan layanan tetap berjalan dengan baik, mulai dari kesiapan armada, kru, hingga pengawasan perjalanan secara menyeluruh,” imbuhnya.











