MobilKomersial.com — Sebagai ditributor truk Shacman di Indonesia, Mobilindo Cemerlang Group (MC Group) memperluas pilihan kendaraan niaga berbasis elektrifikasi di Indonesia dengan meluncurkan truk listrik Shacman X5000 EV di ajang Mining Indonesia 2026.
Mengusung tenaga listrik, truk tugas berat untuk pertambangan ini hadir sebagai solusi transportasi yang lebih rendah emisi sekaligus menjawab kebutuhan industri terhadap kendaraan yang efisien untuk mendukung operasional angkutan.
Direktur MC Group, Dirmanto mengatakan selain meluncurkan truk hybrid, pihaknya juga memperkenalkan Shacman X5000 EV Dump Truck 8×4 580 HP sebagai kendaraan heavy-duty berbasis listrik dengan T2380S030 Permanent Magnet Synchronous Motor beroutput 580 dk dan battery pack berkapasitas 400,61 kWh.
Baca juga: Manfaatkan Efisiensi, MC Group Luncurkan Truk Tambang Shacman X5000 Hybrid

“Unit ini memiliki kapasitas bak hingga 36 m³. Karakteristik motor listrik memberikan respons torsi yang berbeda dibandingkan kendaraan berbasis mesin diesel. Teknologi EV dapat menjadi salah satu pilihan untuk aplikasi dengan rute berulang, jarak tempuh yang terukur, dan pola operasional yang relatif konsisten,” kata Dirmanto di Mining Indonesia 2026.
Lebih lanjut Dirmanto mengatakan bahwa di saat yang sama, industri juga dihadapkan pada tuntutan untuk mengurangi emisi dan mendukung transisi energi. Teknologi Hybrid dan EV menjadi salah satu solusi yang dapat menjawab kebutuhan tersebut.
“Penerapan kendaraan listrik heavy-duty membutuhkan kesiapan ekosistem. Infrastruktur charging, kapasitas listrik, waktu pengisian, rute operasional, battery management, maintenance, serta strategi penggunaan armada perlu menjadi bagian dari perencanaan,” ujarnya.
Baca juga: MC Group Pamer Lini Truk Unggulan Shacman di Mining Indonesia 2024

Dirmanto menjelaskan bahwa, pihaknya melihat bahwa tidak terdapat satu teknologi yang dapat diterapkan secara sama pada seluruh jenis operasi. Pemilihan antara Hybrid, EV, maupun kendaraan diesel konvensional perlu mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing fleet.
“Beberapa faktor yang dapat menjadi pertimbangan meliputi Total Cost ofOwnership (TCO), rute dan medan, payload, jarak tempuh harian, duty cycle,pola utilisasi armada, kebutuhan charging, kesiapan infrastruktur, kompetensiteknisi, ketersediaan spare parts, strategi maintenance, serta target efisiensidan keberlanjutan,” ungkapnya.
Dengan pendekatan tersebut, tambah Dirmanto keputusan investasi kendaraan dapat mempertimbangkan tidak hanya spesifikasi unit, tetapi juga kesesuaiannya dengan kebutuhan operasional dan nilai ekonominya dalam jangka panjang.










