MobilKomersial.com — Industri otomotif Indonesia kini tengah menghadapi tantangan besar seiring dengan semakin tingginya persentase campuran bahan bakar nabati dalam program Biodiesel nasional.
Meskipun langkah ini merupakan bagian dari upaya menuju kemandirian energi, terdapat perbedaan teknis yang mencolok jika dibandingkan dengan standar global, seperti Biodiesel B100 di Brasil.
Baca Juga: Awas! Mesin TGDI Bisa Hancur Seketika Karena LSPI, Ini Cara Tepat Mengatasinya
Menanggapi fenomena tersebut, Arief Hidayat MA., Eng., selaku CEO & Founder Wealthy Group, memberikan pandangan edukatif mengenai mengapa pemilik kendaraan di Indonesia harus lebih waspada terhadap karakteristik bahan bakar lokal.
Perbedaan paling fundamental antara Biodiesel di Indonesia dengan B100 di Brasil terletak pada kadar belerang yang sangat jenuh. Di Indonesia, Bio Solar masih memiliki kandungan belerang mencapai 2.500 ppm, Dexlite 1.500 ppm dan Pertamina Dex pada 500 ppm.

Angka tersebut diklaim sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan standar biodiesel di Brasil yang sudah setara dengan Ultra-Low Sulfur Diesel (ULSD) dengan kandungan hanya 10 hingga 15 ppm.
“Tingginya kadar belerang ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan mesin karena memicu pembentukan asam, jelaga, dan korosi yang agresif di ruang bakar,” ungkap Arief kepada MobilKomersial.com, Selasa (12/5/2026).
Selain itu, bahan baku utama Biodiesel Indonesia yang berbasis minyak sawit (FAME) memiliki sifat oksidasi yang rendah yang membuat bahan bakar menjadi sangat rentan terhadap polimerisasi dan pembentukan lumpur di dalam tangki atau saluran bahan bakar.
Namun sebaliknya, Biodiesel Brasil justru menggunakan kombinasi minyak kedelai, lemak sapi, hingga minyak goreng bekas yang secara teknis memiliki stabilitas penyimpanan yang jauh lebih baik.
Baca Juga: Jangan Asal Pilih Oli! Ternyata TBN Tinggi Belum Tentu Aman Buat Mesin Modern

Fenomena ini diperparah oleh sifat alami FAME sawit yang memiliki kadar air tinggi karena kelembaban tropis, sehingga meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba yang bisa menyumbat sistem filtrasi kendaraan.
Kondisi teknis ini dinilai sangat berdampak pada performa komponen vital seperti injektor dan sistem emisi, dimana penggunaan Biodiesel dengan karakteristik lokal seringkali mengakibatkan pembentukan deposit pada injektor serta endapan di piston secara masif.
Hal ini sangat kontras dengan B100 Brasil yang menghasilkan pembakaran lebih bersih dan halus karena memiliki nomor Cetane yang lebih tinggi, yakni berada di kisaran 50 hingga 55 dibandingkan standar lokal yang bervariasi antara 48 hingga 52.
Lebih lanjut, Arief Hidayat juga menegaskan bahwa tanpa penanganan yang tepat, pemilik kendaraan akan menghadapi siklus pembersihan Exhaust Gas Recirculation (EGR) dan layanan injektor yang lebih sering.

Kendati demikian, ia pun turut menegaskan bahwa dampak jangka panjang yang perlu diantisipasi oleh para pengguna mesin diesel modern saat ini adalah penurunan usia pakai komponen pelumas dan filter partikulat.
Kadar sulfur dan oksidasi yang tinggi pada Biodiesel Indonesia memicu pengenceran oli mesin yang lebih cepat, sehingga interval penggantian oli harus dilakukan lebih pendek demi menjaga proteksi mesin.
Baca Juga: Salah Kaprah Copot EGR Demi Biodiesel, Pakar Ingatkan Risiko Kerusakan Mesin SUV Diesel
Bahkan, komponen modern seperti Diesel Particulate Filter (DPF) juga akan mengalami pemuatan abu yang sangat cepat akibat produksi jelaga yang tinggi, sehingga intinya dapat beresiko kerusakan besar pada mesin.
“Kita harus memahami bahwa perilaku bahan bakar kita belum menyamai standar ULSD premium, sehingga diperlukan edukasi berkelanjutan bagi konsumen agar mereka dapat memitigasi risiko keausan mesin dan biaya pemeliharaan yang membengkak,” tutup Arief.











