Tak hanya dari sisi regulasi dan penyewaan, produsen kendaraan seperti Mitsubishi Fuso juga terus berinovasi untuk menekan potensi “kebocoran” biaya di sektor purnajual yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional pengusaha di industri logistik.
Aji Jaya selaku Sales & Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), mengungkapkan bahwa layanan purnajual yang adaptif adalah kunci bagi industri logistik yang bekerja 24 jam.
Baca Juga: Pasti Cuan! Ini 2 Jagoan Mitsubishi Fuso yang Bikin Bisnis Pertanian Makin Produktif
“Operasional logistik ini tidak mengenal waktu. Jadi, tantangan bagi kami sebagai produsen harus menyiapkan tidak hanya produk-produk truk dan bus berkualitas yang banyak variannya, tetapi juga harus menyediakan pelayanan purna jual terbaik,” tuturnya.

Menurut Aji, pemanfaatan sistem telematika menjadi sangat krusial untuk memonitor perilaku pengemudi dan kondisi truk secara real-time. Data dari alat ini memungkinkan pengusaha melakukan evaluasi mendalam untuk efisiensi biaya.
Selain memiliki sistem telematik canggih, Mitsubishi Fuso juga menawarkan suku cadang truk dengan berbagai varian kualitas, yakni suku cadang asli yang terkenal awet dan Suku Cadang Tiga Berlian sebagai komponen alternatif yang punya harga lebih terjangkau.
“Mitsubishi Fuso memiliki sistem telematics yang dapat memonitor operasional kendaraan, baik truknya sendiri, maupun pengemudinya. Dengan alat itu, si pengusaha dapat mengevaluasi apa saja yang perlu diperbaiki selama kendaraan beroperasi,” tambahnya.

“Suku cadang kami juga diproduksi lokal sebagai alternatif komponen asli Jepang. Kualitasnya mendekati asli namun dengan harga lebih terjangkau. Saat ini sudah ada 500 lebih komponen lokal yang membantu efisiensi biaya operasional,” kata Aji.
Baca Juga: Mitsubishi Fuso Menggebrak! Aplikasi MyFuso Kini Lebih ‘Sakti’ dengan Tujuh Fitur Revolusioner
Untuk menjangkau area operasional yang jauh dari kota besar, layanan seperti Mobile Workshop Service disiapkan sebagai bengkel berjalan yang mendatangi konsumen. Pada akhirnya, terciptanya ekosistem logistik yang sehat tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.
Kolaborasi erat antara kebijakan pemerintah yang suportif, pengelolaan armada yang cerdas dari operator, serta dukungan purnajual dari produsen menjadi fondasi utama agar bisnis logistik tetap melaju aman dan menguntungkan.











