MobilKomersial.com — Dunia otomotif global dikejutkan oleh hasil uji tabrak terbaru dari program #SaferCarsForAfrica yang dilakukan oleh Global NCAP.
Chery Tiggo 7 Pro, SUV yang tengah naik daun di pasar berkembang yang juga sempat dipasarkan di Indonesia, harus menelan pil pahit setelah hanya mampu meraih peringkat dua bintang untuk perlindungan penumpang dewasa.
Hasil ini tidak hanya mengecewakan dari sisi teknis, tetapi juga memicu kecaman keras terhadap strategi pemasaran produsen asal Tiongkok tersebut yang dianggap menyesatkan konsumen.
Baca Juga: Polemik Impor 105 Ribu Kendaraan Niaga India, Kemenperin Sebut Pukul Industri Lokal!
Dalam laporan teknisnya, Global NCAP menyoroti ketidakstabilan struktur kendaraan saat terjadi benturan. Area footwell atau ruang kaki serta struktur bodi utama ditemukan dalam kondisi tidak stabil dan tidak mampu menahan beban benturan lebih lanjut.
Kondisi ini sangat fatal karena integritas kabin adalah pertahanan terakhir bagi penumpang. Untuk perlindungan penumpang anak, mobil ini meraih tiga bintang, namun tetap menyisakan catatan merah.

Sistem pengaman anak (CRS) gagal dalam pemasangan di semua posisi kursi belakang yang menghadap ke belakang, ditambah lagi tidak adanya fitur untuk menonaktifkan kantung udara penumpang depan saat dipasang kursi bayi.
Ketidakhadiran perlindungan kepala samping (curtain airbags) sebagai standar membuat Global NCAP bahkan tidak melakukan uji tabrak tiang samping (side pole impact). Ketiadaan fitur ini mengekspos kepala penumpang pada risiko cedera fatal, bahkan dalam benturan samping berkecepatan rendah sekalipun.
Meski fitur Electronic Stability Control (ESC) dan pengingat sabuk pengaman sudah tersedia di semua posisi, sistem tersebut dilaporkan belum memenuhi standar ketat yang ditetapkan oleh Global NCAP.
Di balik kegagalan teknis ini, muncul isu etika pemasaran yang serius. Global NCAP dan Automobile Association (AA) Afrika Selatan melayangkan kritik tajam terhadap Chery atas klaim keselamatan yang dianggap menggunakan “asap dan cermin” pemasaran.
Baca Juga: Inilah Spesifikasi Tata Yodha, Pikap India yang Bikin Geger Industri Otomotif Tanah Air
Pihak pabrikan diketahui menggunakan hasil uji tabrak bintang lima dari Euro NCAP dalam pernyataan medianya untuk pasar lokal, padahal spesifikasi kendaraan di Eropa jauh berbeda dengan yang dijual di Afrika Selatan.
Richard Woods, CEO Global NCAP, menegaskan bahwa transparansi adalah kunci utama dalam keselamatan kendaraan. Menurutnya, hasil dua bintang tersebut menjadi jauh lebih buruk ketika produsen sengaja memberikan informasi yang menyesatkan dengan mencatut hasil dari pasar lain yang tidak relevan.
“Peringkat dua bintang untuk Tiggo 7 Pro sangatlah mengecewakan, namun hasil buruk ini diperparah secara serius oleh publikasi informasi yang menyesatkan mengenai hasil uji tabrak dari pasar lain,” tegasnya dalam keterangan resminya, Selasa (24/2/2026).
“Konsumen membutuhkan informasi yang independen dan akurat untuk menjadi dasar keputusan pembelian mereka. Yang dibutuhkan adalah transparansi dan akuntabilitas dalam keselamatan kendaraan, bukan ‘asap dan cermin’ (tipu daya) pemasaran,” terangnya.

Senada dengan itu, Bobby Ramagwede selaku CEO AA Afrika Selatan menyatakan bahwa konsumen berhak mendapatkan informasi yang akurat dan independen. Ia menekankan bahwa keselamatan tidak boleh menjadi fitur opsional.
“Kami prihatin uji tabrak yang dilakukan oleh Chery Afrika Selatan secara lokal baru-baru ini, yang kami anggap sebagai tindakan yang tidak aman sekaligus menyesatkan berdasarkan prinsip-prinsip studi NCAP yang dilakukan di bidang keselamatan kritis ini,” ujarnya.
Baca Juga: Cuma 3 Bintang! Tingkat Keamanan Truk MAN TGX Lemah, Euro NCAP Ungkap Kelemahan Kritisnya
“Kami mencatat kabar mengenai Tiggo 7 Pro dan peringkat lima bintang Euro NCAP-nya, dan menganggap informasi ini ‘berat sebelah’ karena tidak menunjukkan ketidakcukupan standar keselamatan pada model entry-level di rentang varian yang sama,” jelasnya.
“Pengendara layak mendapatkan yang lebih baik, terlepas dari asal atau harga kendaraan tersebut. Peringkat dua bintang ini memperkuat kebutuhan mendesak bagi semua produsen untuk berkomitmen pada kesetaraan keselamatan di semua pasar,” pungkas Bobby.
Kasus Tiggo 7 Pro ini menjadi pendorong kuat bagi desakan perlunya regulasi yang ketat serta akuntabilitas produsen yang besar. Hasil ini menjadi pengingat keras bahwa peringkat bintang lima di satu benua belum menjamin keselamatan yang sama di benua lainnya.











