MobilKomersial.com — Kecanggihan kendaraan hybrid yang menggabungkan sistem elektrifikasi dengan mesin konvensional, membuat pemilik mobil mulai beralih menggunakannya karena dianggap lebih efisien bahan bakar.
Tetapi taukah pemilik bahwa kendaraan hybrid yang dilengkapi baterai juga dapat mengalami keausan atau baterai cepat rusak jika kendaraan tidak dirawat dengan baik dan kehati-hatian.
CEO & Founder PT Welty Indah Perkasa (Wealthy Group), Arief Hidayat mengungkapkan bahwa baterai kendaraan hybrid mudah mengalami penurunan daya karena faktor panas berlebih karena pada dasarnya baterai hybrid-terutama NiMH-sangat sensitif terhadap suhu.
Baca juga: Wajib Disimak, Faktor yang Menyebabkan Kendaraan Hybrid Mengalami Penurunan Performa

“Suhu tinggi mempercepat reaksi kimia internal korosi dan kerusakan elektrolit lebih cepat serta panas berlebih meningkatkan resistansi internal Battery lebih cepat habis dan pengisian daya lebih lambat,” kata Arief, Jumat (9/1/2026).
Menurut Arief, kipas pendingin yang tersumbat atau ventilasi yang kotor (umum terjadi di iklim berdebu, seperti Indonesia) akan memperburuk masalah, alhasil karena mesin lebih sering menyala maka SOC turun dengan cepat dan kapasitas baterai menyusut.
“Baterai kendaraan hybrid bukanlah satu baterai besar-melainkan paket yang terdiri dari banyak sel kecil. Seiring waktu, sel bisa menua dengan kecepatan yang berbeda, kemudian sel yang lemah menurunkan kinerja seluruh paket. Battery Manajemen Sistem (BMS) melindungi sel terlemah, sehingga seluruh baterai tampak turun dengan cepat,” ujarnya.
Baca juga: Rahasia Mobil Hybrid Tetap Halus Saat Pindah Mode EV ke ICE, Bos Wealthy Ungkap Kuncinya

Pada kendaraan hybrid, kata Arief, prinsip menjaga perbedaan arus (ampere) antar sel baterai juga sangat penting, meskipun beban energi tidak sebesar pada mobil listrik murni. BMS pada hybrid berfungsi untuk menyeimbangkan voltase dan arus antar sel, biasanya menjaga sel agar perbedaan arus tetap kecil-umumnya di bawah 0,5 ampere selama proses penyeimbangan.
“Jika terjadi perbedaan arus yang signifikan dan berkelanjutan, hal ini bisa menandakan adanya sel yang mulai menurun kualitasnya atau masalah koneksi internal, yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kinerja Battery secara keseluruhan dan mempercepat turunnya SOC serta kapasitas baterai,” ungkapnya.
lebih lanjut Arief mengatakan bahwa, meskipun toleransi arus antar sel pada hybrid sedikit lebih longgar dibanding EV, menjaga agar perbedaan tetap minimal sangat penting untuk memastikan daya tahan, efisiensi, dan keselamatan baterai kendaraan hybrid.
Baca juga: Mengintip Hotel Truk yang Digunakan TH Trucks Team di Rally Dakar 2026

“Kalau pada kendaraan listrik (EV), prinsip mempertahankan perbedaan arus (amp) minimal di antara sel baterai individu bahkan lebih penting daripada pada hybrid, karena permintaan energi yang lebih tinggi dan manajemen baterai yang lebih canggih,” imbuhnya.
BMS pada kendaraan EV modern, tambah Arief, direkayasa untuk menjaga perbedaan tegangan sel dan, dengan perluasan, aliran arus serendah mungkin- seringkali kurang dari 0,1 hingga 0,2 amp selama prosedur penyeimbangan.
“Sementara lonjakan sesaat di atas kisaran ini dapat terjadi di bawah akselerasi cepat atau pengisian cepat, BMS akan secara aktif menyeimbangkan sel untuk mengembalikan perbedaan ke minimum yang aman. Perbedaan persisten di atas 0,2-0,5 amps dapat mengindikasikan masalah, seperti degradasi sel, masalah koneksi, atau ketidakseimbangan termal, dan dapat memicu peringatan atau penurunan mode kinerja di kendaraan,” tambahnya.
Pada akhirnya, lanjut Arief setiap produsen EV memiliki toleransi spesifiknya sendiri, tetapi secara umum, mempertahankan perbedaan amp yang sangat kecil-biasanya di bawah 0,2 amp, angka tersebut sangat ideal untuk memastikan kinerja maksimum, umur panjang, dan keamanan paket baterai.











