MobilKomersial.com — Kendaraan hybrid yang tengah naik daun di Indonesia karena menjadi salah satu alternatif mobil hemat biaya bahan bakar ternyata memiliki titik lemah serta terdapat area permasalahan jika tidak dirawat dengan baik.
Kendaraan hybrid yang menggabungkan sistem elektrifikasi dengan mesin Internal Combustion Engine (ICE) memiliki lebih banyak sensor dan modul kontrol karena mempunyai kompleksitas dari sistem mobil tersebut.
CEO & Founder PT Welty Indah Perkasa (Wealthy Group), Arief Hidayat mengungkapkan bahwa teknologi hybrid yang tertanam di kendaraan yang ada di Indonesia saat ini menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin memiliki kendaraan hemat bbm.
Baca juga: Rahasia Mobil Hybrid Tetap Halus Saat Pindah Mode EV ke ICE, Bos Wealthy Ungkap Kuncinya

“Kendaraan hybrid itu menggabungkan mesin ICE dengan sistem motor listrik, baterai tegangan tinggi, inverter, konverter, sistem DC-DC, gearset planet atau e-CVT, serta sistem pendingin mesin dan baterai,” kata Arief kepada MobilKomersial.com, Rabu (7/1/2026).
Menurut Arief, kelemahan yang terdapat pada mobil hybrid memungkinkan kegagalan komponen lebih tinggi dibandingkan dengan kendaraan ICE atau EV seperti inverter yang terlalu panas atau kipas pendingin baterai HEV menyumbat dan kegagalan konverter DC-DC.
“Meskipun baterai hybrid bertahan lama, tetapi kapasitas dan kualitasnya akan menurun,hal tersebut disebabkan oleh panas, siklus pengisian atau pengosongan tinggi , sistem pendinginan yang buruk, mengemudi dengan agresif, dan berada di iklim tropis (seperti Indonesia) yang mempercepat degradasi,” ujarnya.
Baca juga; Dorong Pergerakan Wisata, Damri Buka Rute Baru ALBN Kuching – Putussibau

Dengan adanya degradasi baterai, kata Arief maka kendaraan hybrid akan mengalami gejala seperti jangkauan EV yang berkurang, penghematan bahan bakar yang lebih rendah, mesin bekerja lebih sering, dan munculnya lampu peringatan (POA80, POA7F, dll).
“Apabila gejala tersebut muncul, makaa dampak biayanya meliputi penggantian baterai bisa mahal, terutama untuk hybrid yang lebih tua. Kendaraan hybrid itu memberikan kinerja yang optimal untuk mengemudi di kota, dan berkendara Stop & Go,” ungkapnya.
Arief juga mengatakan bahwa kelemahan pada kendaraan hybrid dapat muncul ketika mengemudi menanjak untuk waktu yang lama, mengemudi di jalan raya berkecepatan tinggi, diperlakukan sebagai towing, dan mengangkut beban berat.
Baca juga: Rally Dakar 2026, Hino Team Sugawara Kembali Beraksi Bawa Truk Legendaris

“Faktor kelemahan yang memenagruhi kendaraan hybrid diantaranya ICE dipaksa untuk bekerja lebih keras, baterai terlalu panas, output motor terbatas lalu sistem dapat memasuki protection mode.
Untuk protection mode pada kendaraan, lanjut Arief dibuat dengan mengacu pada keselamatan fitur bawaan dalam sistem kontrol kendaraan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerusakan pada bagian penting dan menjaga keandalan kendaraan.
“Akibatnya, pengendara mungkin mengalami atau melihat penurunan kinerja atau akselerasi, dan terkadang mesin pembakaran internal (ICE) terpaksa bekerja lebih keras untuk mengimbangi bantuan listrik yang terbatas,” imbuhnya.











