MobilKomersial.com — Di tengah sengitnya persaingan industri otomotif global, kecepatan dan efisiensi menjadi mata uang tertinggi. Dan sebuah rahasia efisiensi yang menakjubkan terkuak di jantung kawasan industri Cikarang, Jawa Barat.
Ya, fasilitas manufaktur PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) Plant Cikarang beroperasi dengan ritme yang nyaris tak masuk akal yaitu satu unit mobil baru melaju dari stasiun perakitan hanya dalam waktu 2,1 menit.
Baca Juga: Cetak Sejarah! Suzuki Fronx dan Satria Buatan Indonesia Resmi Mengaspal di Pasar Global
Angka ini bukanlah waktu penyelesaian total, melainkan take time atau waktu yang dibutuhkan oleh setiap stasiun kerja di jalur perakitan untuk menyelesaikan bagiannya sebelum unit bergerak ke stasiun berikutnya.
Efisiensi luar biasa ini adalah buah dari alur produksi yang kini sepenuhnya terintegrasi, yang memungkinkan pergerakan setiap komponen dan perakitan berjalan tanpa jeda dalam satu kawasan.

Proses produksinya kini melibatkan robot-robot canggih dan fase pengetesan untuk teknologi terbaru seperti Advanced Driving Assistance System (ADAS), serta penggunaan 3D scanning untuk menjamin konsistensi dan presisi bodi kendaraan sesuai standar global.
Meskipun ritme perakitan super cepat di lini produksi mencapai 2,1 menit per unit, waktu penyelesaian penuh sebuah kendaraan, dari lembaran plat baja mentah hingga menjadi mobil utuh yang siap dikirim, tetap berada di kisaran 8 jam.
“Proses pembuatan mobil secara utuh itu memakan waktu sekitar 8 jam. Tapi take time-nya sekitar 2,1 menit,” terang salah satu operator Suzuki saat ditemui MobilKomersial.com di lokasi pabrik, Selasa (18/11/2025) kemarin.
Proses 8 jam ini mencakup rangkaian tahapan yang sangat kompleks dan diawasi ketat mulai dari Pressing, pembentukan awal pelat baja menjadi komponen bodi, Welding (Pengelasan), Painting (Pengecatan), Assembling (Perakitan) hingga Final Inspection.

Plant Cikarang sendiri telah difokuskan sebagai pusat produksi mobil penumpang utama Suzuki sejak tahun 2015. Pabrik ini adalah rumah bagi model-model populer seperti Ertiga, XL7, dan yang terbaru, Suzuki Fronx.
Dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 107.000 unit, pabrik ini bukan hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik yang besar, tetapi juga menjadi tulang punggung ekspor ke berbagai negara tujuan.
Baca Juga: Sukses Ekspor Fronx dan Satria, 32% UMKM Lokal Jadi Bagian Rantai Pasok Global Suzuki Indonesia
Khusus Fronx, Suzuki menargetkan pengapalan sekitar 30.000 unit ke negara-negara Asia Tenggara hingga tahun 2027. “Dalam satu hari, kemampuan produksi Fronx berada di kisaran 130 hingga 150 unit, tergantung kebutuhan,” tambah operator tersebut.
Kecepatan dan kelengkapan fasilitas manufaktur ini adalah hasil dari investasi besar yang ditanamkan Suzuki sejak awal pembangunannya pada tahun 2015 lalu yang nilainya mencapai lebih dari Rp 22 triliun.

Investasi fantastis ini memungkinkan proses manufaktur dikerjakan secara komprehensif di satu kawasan terintegrasi, mulai dari pembuatan mesin, transmisi, hingga kursi mobil melalui fasilitas powertrain dan seat terpisah.
Selain itu, komitmen terhadap industri dalam negeri pun juga diklaim sangat kuat. Pasalnya, Suzuki menggandeng sekitar 800 pemasok komponen, di mana 55% di antaranya berasal dari perusahaan lokal.
Baca Juga: Suzuki Fronx GL AT Buktikan Efisiensi Rute Jakarta-Bandung, Tembus 14,5 Kpl!
Yang lebih menariknya lagi, sekitar 32% dari pemasok tersebut dikategorikan sebagai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hal ini sekaligus menunjukkan dukungan nyata Suzuki terhadap rantai pasokan nasional.
Untuk model ekspor andalan seperti Fronx, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pun sudah mencapai angka impresif 63%, mengukuhkan posisi Indonesia bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai basis produksi otomotif berstandar global.











