MobilKomersial.com — Tren penggunaan bahan bakar biodiesel yang semakin meningkat di Indonesia seringkali dibarengi dengan munculnya berbagai mitos teknis di kalangan pemilik kendaraan SUV diesel.
Salah satu informasi menyesatkan yang kerap beredar adalah saran untuk menonaktifkan atau melepas sistem Exhaust Gas Recirculation (EGR) agar mesin lebih ‘aman’ saat menenggak biodiesel.
Baca Juga: Wealthy Engine Flush Kini Pakai Formula Baru, Bikin Mesin Awet Tanpa Takut Seal Rusak
Namun, para ahli menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan hanya tidak tepat sasaran, tetapi juga mencerminkan rendahnya pemahaman teknis terhadap mekanisme kerja mesin diesel modern.
Arief Hidayat MA., Eng., selaku CEO & Founder PT Welty Indah Perkasa (Wealthy Group), menjelaskan bahwa terdapat dinding pemisah yang sangat jelas antara fungsi EGR dan karakteristik kimiawi biodiesel.

Sistem EGR dirancang khusus untuk mengontrol emisi gas buang dengan cara mensirkulasikan kembali sebagian gas sisa pembakaran ke dalam ruang bakar guna menurunkan suhu pembakaran dan menekan kadar nitrogen oksida (NOx).
Sementara itu, tantangan penggunaan biodiesel murni berasal dari sifat kimia pada bahan bakarnya itu sendiri, bukan pada sistem pengelolaan emisi tersebut.
“Menutup saluran EGR dengan harapan bisa memitigasi efek buruk biodiesel adalah sebuah kekeliruan besar. Masalah utama biodiesel terletak pada sifat pelarutnya yang agresif, daya serap air yang tinggi, serta viskositasnya yang berbeda,” ucapnya.
“Ini adalah persoalan kimia bahan bakar yang menyerang segel karet, injektor, dan filter, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan cara kerja katup EGR,” ungkap Arief Hidayat kepada MobilKomersial.com, Kamis (30/4/2026).
Baca Juga: Jangan Pakai Bensin! Wealthy Tar Remover, Solusi Aman Hilangkan Noda Aspal Tanpa Merusak Cat Mobil

Lebih lanjut, Arief memaparkan bahwa Biodiesel memiliki karakter pelarut (solvability) yang kuat sehingga berpotensi merusak komponen karet atau seal pada sistem bahan bakar yang berujung pada kebocoran.
Tantangan penggunaan biodiesel murni berasal dari sifat kimia pada bahan bakar itu sendiri, bukan pada sistem pengelolaan emisi tersebut. Sifat higroskopis atau kecenderungan menyerap air yang tinggi dapat memicu pertumbuhan mikroba dan korosi di dalam tangki.
Pada mesin sistem common rail, biodiesel yang tidak tertangani dengan baik juga dapat meninggalkan endapan pada ujung injektor dan mengganggu pola semprotan bahan bakar, terlepas dari apakah sistem EGR aktif atau tidak.
“Melakukan EGR delete justru membawa risiko hukum dan teknis yang serius. Tanpa EGR, suhu pembakaran memang bisa berubah, namun hal tersebut tidak akan mengubah stabilitas oksidasi atau viskositas biodiesel yang sedang mengalir di dalam mesin,” jelasnya.

Selain membuat kendaraan tidak lagi memenuhi standar emisi lingkungan, pelepasan komponen ini dapat memicu kode kesalahan pada unit kontrol elektronik (ECU) dan otomatis menggugurkan garansi resmi kendaraan.
“Jika pemilik SUV diesel ingin menggunakan biodiesel dengan aman, fokuslah pada perawatan sistem bahan bakar dan penggunaan aditif yang tepat, bukan malah merusak sistem kontrol emisi bawaan pabrik,” tegas Arief.
Baca Juga: Rutin Bersihkan EGR Bisa Cegah Mesin Diesel Tersendat
“Menghapus EGR hanya membuktikan ketidaktahuan mekanik dalam menangani teknologi mesin saat ini. Pendekatan yang benar adalah memastikan kebersihan sistem secara berkala dan memahami batas campuran biodiesel yang direkomendasikan,” pungkasnya.
Dengan demikian, pemilik kendaraan disarankan untuk lebih kritis dalam menerima masukan teknis dan tetap mempertahankan standar operasional pabrikan demi menjaga durabilitas mesin jangka panjang.











