MobilKomersial.com — Raksasa otomotif asal China, BYD, secara agresif terus memperkuat taji bisnisnya di pasar Indonesia. Langkah strategis ini dibuktikan lewat komitmen besar untuk mendongkrak penggunaan kandungan lokal secara masif.
Pabrikan global ini resmi menancapkan taji dengan meresmikan fasilitas pabrik manufaktur modern di Subang, Jawa Barat. Kehadiran pabrik tersebut menjadi sinyal kuat keseriusan BYD menguasai pasar kendaran listrik.
Baca Juga: Resmi Beroperasi! Pabrik BYD Subang Mampu Rakit 150.000 Unit per Tahun
BYD memasang target yang cukup ambisius untuk nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri pada lini produknya. Mereka membidik angka TKDN mencapai 60% pada 2027 mendatang untuk seluruh unit buatan Subang.
Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao, menegaskan pentingnya melokalkan komponen produksi. Strategi ini menjadi pilar utama perusahaan dalam membangun ekosistem EV yang solid di Tanah Air.

Upaya besar tersebut tidak sekadar berfokus pada aktivitas perakitan unit secara kasar di dalam negeri. BYD memilih untuk menghadirkan proses manufaktur kendaraan yang jauh lebih utuh dan juga sangat lengkap.
“Kami juga memperkenalkan manufaktur penuh, completely knocked down, dengan proses manufaktur lengkap termasuk stamping, welding, dan painting,” kata Eagle di sela peresmian pabrik BYD di Subang, Kamis (3/8/2026) kemarin.
Keberadaan fasilitas produksi yang komprehensif menjadi faktor krusial bagi operasional BYD di Indonesia. Hal ini guna memastikan lini mobil listrik mereka benar-benar terlahir dari tangan industri lokal.
Baca Juga: BYD M6 DM Terbukti Hemat Biaya Perawatan Sampai 30 Persen, Ini Rahasianya
Eagle menilai bahwa proses yang hanya mengandalkan perakitan akhir tidak akan memberikan dampak yang signifikan. Kontribusi terhadap pertumbuhan industri komponen dalam negeri dipastikan tidak akan maksimal.
Oleh sebab itu, BYD memilih untuk memperluas cakupan rantai produksinya secara bertahap dan terukur. Kompleks pabrik di Subang dirancang khusus agar mampu menjalankan tahapan manufaktur yang sangat luas.
Langkah nyata BYD saat ini sudah membuahkan hasil dengan raihan nilai TKDN yang melampaui angka 40 persen. Pencapaian ini sukses diterapkan pada model populer seperti M6 EV, M6 DM, Atto 1, hingga Denza D9.

“Perhitungan kandungan lokal tidak hanya bergantung pada komponen lokal. Ini merupakan perhitungan dan operasional yang sangat komprehensif,” ujar Eagle Zhao saat menjelaskan rumitnya skema TKDN.
Integrasi pabrik Subang dipastikan bakal membuka pintu kolaborasi yang lebih lebar bagi pemasok lokal. Semakin tinggi angka TKDN, semakin besar pula keterlibatan industri komponen dalam rantai pasok BYD.
Baca Juga: Resmi Masuk Indonesia, Ini Rahasia Di Balik Teknologi DM BYD yang Bisa Tembus 65 Kpl!
Komitmen investasi jangka panjang juga diiringi dengan rencana peluncuran berbagai model kendaraan listrik baru. Seluruh unit teranyar tersebut akan diproduksi seiring meningkatnya kapasitas pabrik Subang.
Fasilitas megah di Jawa Barat ini tak hanya disiapkan untuk memenuhi permintaan pasar domestik Indonesia. BYD berambisi menjadikan pabrik Subang sebagai basis produksi serta pusat ekspor se-Asia Tenggara.











