MobilKomersial.com — Absennya nama Suzuki dalam mega proyek kendaraan Koperasi Desa Merah Putih memicu tanda tanya besar di industri otomotif nasional.
Menanggapi kabar tersebut, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) akhirnya buka suara untuk meluruskan duduk perkara mengenai tidak terpilihnya New Carry dalam pengadaan kendaraan niaga tersebut.
Meski sempat terjalin komunikasi antara pihak Suzuki dengan PT Agrinas Pangan Nusantara selaku penyelenggara, proses tersebut rupanya berakhir tanpa titik temu. Donny Ismi Saputra, 4W Deputy Managing Director PT SIS, mengkonfirmasi adanya interaksi awal dengan pihak Agrinas.
Baca Juga: Bikin Tenang! Suzuki Kerahkan 71 Titik Bengkel Mudik dari Sumatera hingga Sulawesi
Namun, ia menjelaskan bahwa dalam dinamika komunikasi yang terjadi, kedua belah pihak tidak berhasil mencapai kesepakatan yang selaras untuk memenuhi kebutuhan spesifik yang diajukan.

Terkait detail poin-poin yang menjadi batu sandungan dalam negosiasi tersebut, Donny memilih untuk bersikap tertutup. “Ada banyak detail. Tapi mohon maaf, tidak bisa kita sampaikan di sini,” ungkap Donny saat ditemui di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Meskipun enggan membeberkan alasan kegagalan kontrak tersebut, Donny tetap menyuarakan kepercayaan diri yang tinggi terhadap kapabilitas manufaktur Suzuki dalam memproduksi kendaraan niaga yang sesuai dengan karakteristik unik pasar Indonesia.
Kepercayaan diri ini bukan tanpa alasan, mengingat Suzuki telah menjadi bagian dari denyut nadi ekonomi Indonesia lebih dari 5 dekade. Donny mengingatkan kembali bahwa identitas Suzuki di tanah air tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kendaraan niaga mereka.
Sejak tahun 1976, New Carry telah menjadi tulang punggung bagi para pelaku usaha, menciptakan rekam jejak yang sulit digoyahkan oleh pendatang baru, bahkan sudah menjadi brand-minded bagi masyarakat Indonesia.

“Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada rekan-rekan media bahwa kami masuk ke Indonesia ini kan pakai kendaraan niaga kami, dari tahun 1976 pakai New Carry. Jadi kami sudah lebih dari 50 tahun berada di Indonesia,” tutur Donny dengan nada tegas.
Ia menambahkan bahwa mayoritas pelaku usaha di tanah air sebenarnya sudah memberikan validasi terhadap kualitas produk mereka, mulai dari kapasitas angkut yang mumpuni, hingga efisiensi operasional dan jaringan purna jual yang luas.
Menariknya, salah satu spesifikasi yang menjadi sorotan adalah sistem penggerak roda. Donny mengakui, saat ini Carry masih setia menggunakan sistem penggerak 4×2 dan tetap membuktikan efektivitasnya dalam mengakomodasi berbagai kebutuhan usaha di Indonesia.
“Tapi sejarah sudah membuktikan, dengan penggerak tersebut (4×2), Carry terus membuktikan dan mampu mengakomodasi berbagai karakteristik penggunaan kendaraan komersial,” pungkas Donny.











