MobilKomersial.com — Istilah Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) kerap muncul sebagai “jalan tengah” yang menjanjikan meski bagi sebagian calon konsumen, teknologi ini masih terasa abstrak. Bagaimana cara kerjanya? Kapan harus pakai listrik, kapan pakai bensin?
Wuling Motors menjawab kebingungan ini tidak hanya dengan brosur, tapi melalui pengalaman nyata mengemudi Darion PHEV. Mobil ini menjadi kendaraan edukasi yang nyata untuk memahami fleksibilitas sebenarnya dari teknologi hibrida plug-in.
Baca Juga: Bisa Tembus 1.000 Km! Wuling Eksion PHEV Jadi Bintang Baru di IIMS 2026
Apa Itu PHEV?
Secara sederhana, PHEV seperti menggabungkan dua dunia terbaik: motor listrik dengan baterai besar yang bisa diisi ulang dari stop kontak, dan mesin bensin yang bertenaga.
Kunci utamanya adalah baterai berkapasitas signifikan (20,5 kWh pada Darion) yang memungkinkan perjalanan harian hanya dengan tenaga listrik murni hingga 125 km dan lebih dari 1000 km dari gabungan tenaga listrik dan mesin bensin.

Darion PHEV: Kecerdasan yang Otomatis
Melalui Sistem Hibrida Ling Power-nya, Darion PHEV beroperasi dengan prinsip efisiensi maksimal. Pengemudi tidak perlu pusing memilih mode karena sistem bekerja secara otomatis dan mulus. Namun, memahami logikanya memberi keyakinan:
Mode EV: Berkendara sepenuhnya dengan tenaga listrik tanpa mesin.
Hibrida Seri: Mesin menghasilkan listrik untuk menggerakkan motor.
Hibrida Paralel: Mesin dan motor bekerja bersama untuk kebutuhan daya yang lebih tinggi.
Semua transisi mode terjadi secara otomatis dan lancar.
Baca Juga: Biaya Cas Cuma Rp190 Ribu untuk 500 Km, JNE Tangerang Borong 10 Unit Wuling Mitra EV!
Manajemen Energi Wuling Darion
Darion PHEV dibekali dengan manajemen energi yang dipersiapkan untuk memberikan kenyamanan lebih. Mulai dari EV Max yang ketika diaktifkan maka pengguna bisa memanfaatkan EV mode sampai sisa SOC baterai di 12%, sedangkan saat berada di mode EV First maka pengguna bisa memanfaatkan EV mode sampai sisa SOC baterai di 35%.
Apabila angka tersebut sudah tercapai maka sistem secara otomatis akan merubah ke mode hybrid atau menyalakan mesin bensin untuk menjalankan mobil dan membantu untuk melakukan pengecasan kembali pada baterai.
Selain itu ada Force Power Retention yang memungkinan pengemudi “menabung” daya baterai (di level 35-70%) untuk digunakan nanti di area dalam kota, dengan mengandalkan mesin dan regeneratif selama di tol.

PHEV vs HEV: Fleksibilitas adalah Kunci
Inilah pembeda utama. Hybrid Electric Vehicle (HEV) tidak bisa diisi ulang dari soket, sehingga jarak dari penggunaan listrik murninya sangat minimal. Darion PHEV, dengan kemampuan isi ulang eksternal, memungkinkan pengguna yang memiliki akses pengisian eksternal dapat menikmati mobilitas hariannya tanpa konsumsi BBM, hanya dengan tenaga listrik.
Baru ketika melakukan perjalanan jarak jauh melampaui 125 km, sistem hibrida mengambil alih sehingga memungkinkan pengguna menempuh jarak lebih panjang tanpa khawatir kehabisan bensin atau daya baterainya.
Baca Juga: SUV Kompak Makin Ramai, Wuling Tawarkan New Alvez ‘It’s All You Need’
“Darion PHEV mengkombinasikan motor listrik, baterai berkapasitas besar, dan mesin pembakaran dalam satu sistem. Kendaraan ini memungkinkan pengoperasian dalam mode listrik pada kondisi tertentu, serta beralih secara otomatis ke sistem hybrid untuk mendukung fleksibilitas penggunaan pada berbagai skenario berkendara,” jelas Aji Ibrahim, Product Planning Wuling Motors.
Dukungan keamanan seperti sistem manajemen baterai hybrid tingkat lanjut dan perlindungan termal cerdas memberi ketenangan bagi kepemilikan jangka panjang











