MobilKomersial.com — Industri otomotif terus bergerak maju, menghadirkan teknologi propulsi kendaraan yang semakin canggih untuk menjawab tantangan efisiensi dan lingkungan.
Perbandingan antara mesin Internal Combustion Engine (ICE) tradisional dan mesin Hybrid kini menjadi sorotan utama, terutama bagi konsumen yang mencari keseimbangan antara kinerja, efisiensi bahan bakar, dan dampak ekologis.
Menurut Arief Hidayat MA., Eng., CEO PT Wealthy Indah Perkasa (Wealthy Group), pilihan antara ICE dan Hybrid sangat bergantung pada kebutuhan, kebiasaan mengemudi, dan prioritas lingkungan maupun anggaran setiap individu.
Mesin ICE, yang telah menjadi standar selama lebih dari satu abad, menghasilkan tenaga murni dengan membakar bahan bakar di dalam silinder serta menawarkan pengiriman daya yang konsisten dan sangat baik untuk perjalanan jarak jauh dan mengemudi di jalan raya.

Disisi lain, Arief menyoroti ketergantungan penuh pada bahan bakar fosil menyebabkan kontribusi signifikan terhadap polusi udara. Selain itu, efisiensi bahan bakarnya menurun drastis dalam kondisi lalu lintas padat karena seringnya idle dan akselerasi.
Namun sebaliknya, mesin hibrida alias hybrid hadir sebagai solusi ganda yang menggabungkan atau mengintegrasikan antara mesin ICE dengan satu atau lebih motor listrik dan juga paket baterai listrik.
Baca Juga: Oli Mesin API CK-4 Jadi Kunci Kelancaran Operasi Ground Support Equipment Bandara, Ini Faktanya
Sistem tersebut dirancang untuk mengoptimalkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi emisi dengan memungkinkan kendaraan beroperasi menggunakan tenaga listrik, mesin ICE, atau kombinasi keduanya.
“Hybrid mengambil alih keunggulan di lingkungan perkotaan dan pinggiran kota,” papar Arief Hidayat dalam keterangan tertulisnya kepada MobilKomersial.com, Senin (24/11/2025).

“Motor listrik memberikan torsi instan pada kecepatan rendah, menghasilkan akselerasi yang lebih halus, responsif dalam lalu lintas stop-and-go, dan mengurangi penggunaan bahan bakar secara signifikan,” tambahnya.
Dari perspektif efisiensi, kendaraan Hybrid jelas unggul. Data menunjukkan bahwa mobil Hybrid standar dapat mencapai efisiensi bahan bakar sekitar 20 km/l dan emisi CO2 100 g/km, jauh melampaui ICE standar yang hanya menghasilkan 12 km/l dan 200 g/km CO2.
Baca Juga: Ganti Oli Mesin Berdasarkan Jarak atau Waktu?, Ini Kata Ahlinya
Namun, keunggulan tersebut diklaim datang dengan biaya awal yang lebih tinggi dibandingkan dengan ICE, yang menawarkan kesederhanaan mekanis dan infrastruktur pengisian bahan bakar yang luas
Arief menambahkan, teknologi Hybrid yang lebih kompleks juga berpotensi meningkatkan biaya perawatan dan, dalam jangka panjang tentu memerlukan adanya biaya penggantian baterai.

Mengenai kinerja, Hybrid menawarkan pengalaman berkendara yang lebih tenang dan mulus, dengan torsi instan dari motor listriknya.
Sementara ICE berperforma tinggi (8 km/l, 5 detik untuk 0-100 km/j) unggul dalam akselerasi cepat, Plug-in Hybrid (PHEV) juga menunjukkan kecepatan yang mengesankan (5,5 detik untuk 0-100 km/j), membuktikan efisiensi tidak selalu mengorbankan performa.
Baca Juga: Sistem Pengereman Bahaya Jika Salah Pilih!, Bos Wealthy Ingatkan Jangan Campur Minyak Rem Jenis Ini
Sebagai penutup, Arief Hidayat menegaskan bahwa seiring dengan meningkatnya harga bahan bakar dan semakin ketatnya peraturan emisi, Hybrid berfungsi sebagai solusi transisi yang ideal menuju mobilitas listrik penuh.
Dengan demikian, bagi konsumen yang memprioritaskan dampak lingkungan dan penghematan bahan bakar di perkotaan, Hybrid adalah pilihan yang lebih disukai.











