MobilKomersial.com — Toyota resmi mengumumkan komitmen terbarunya untuk memproduksi pikap Hilux FCEV berteknologi sel bahan bakar hidrogen mulai tahun 2028. Langkah berani ini diambil guna melengkapi jajaran lini produk pikap menengah di Eropa.
Pabrikan asal Jepang tersebut tetap memegang teguh strategi multijalur demi menyediakan beragam pilihan sistem penggerak bersih. Model hidrogen kelak dipasarkan bersama opsi mesin diesel hibrida ringan dan listrik berbasis baterai.
Baca Juga: Toyota dan Iveco Kembangkan Truk Hidrogen Bersama, Tahan Operasional 25.000 Jam?
Hilux FCEV kini memasuki babak baru setelah melalui serangkaian pengujian intensif pada beberapa prototipe generasi sebelumnya. Gambar godaan perdana telah dirilis, memperlihatkan tanda pencahayaan lampu DRL LED yang amat unik.
Meski siluet dalam gambar terlihat gelap, belum ada kepastian mengenai perubahan bentuk bumper depan atau gril tertutupnya. Tampilan visual versi hidrogen ini diperkirakan mengambil inspirasi langsung dari varian listrik penuh.

Toyota masih merahasiakan detail teknis spesifik, namun menargetkan jarak tempuh melampaui 400 km dalam sekali pengisian hidrogen. Target standar jangkauan WLTP ini dirancang kuat agar mampu mendukung kebutuhan harian.
Pikap ini diproyeksikan memiliki daya tarik beban hingga 2.500 kg, melampaui kemampuan varian listrik murni secara signifikan. Opsi listrik murni tercatat hanya sanggup menembus daya jelajah 257 km dan beban tarik 2.000 kg.
Keunggulan mendasar teknologi hidrogen terletak pada proses pengisian tangki yang sangat cepat dibandingkan pengisian baterai. Pengemudi hanya memerlukan waktu sekitar lima menit saja untuk mengisi ulang hidrogen sampai penuh.
Perkembangan infrastruktur stasiun pengisian hidrogen di Eropa kini menjadi tantangan utama bagi ekspansi Hilux FCEV tersebut. Data Eropa mencatat hanya terdapat 179 stasiun hidrogen aktif di kawasan benua Eropa dan Inggris Raya.
Baca Juga: Toyota dan Scania Resmi Bersatu, Siap Luncurkan Truk Hidrogen Paling Revolusioner di 2027
Selain kendala ketersediaan stasiun hidrogen, penetapan harga jual tinggi diperkirakan menjadi tantangan tersendiri bagi pembeli. Model berteknologi hidrogen selalu dijual jauh lebih mahal dibandingkan versi mesin konvensional.
Sejarah pengembangan mobil hidrogen ini bermula dari prototipe perdana Hilux H2 pada tahun 2022 yang memanfaatkan mesin Mirai. Toyota kemudian memproduksi sepuluh unit prototipe uji jalan di Inggris sepanjang tahun 2024.
Konstruksi teknis mobil mengandalkan tiga tangki hidrogen padat yang terintegrasi rapi di dalam struktur sasis tipe tangga. Baterai lithium-ion diletakkan tepat pada bagian bawah bak belakang guna menjaga efisiensi ruang.
Konfigurasi prototipe awal tersebut terbukti mampu menempuh jarak total sejauh 600 km dengan distribusi daya yang efisien. Motor listrik pada roda belakang menghasilkan tenaga maksimal 180 hp serta torsi puncak 300 Nm.

“Hidrogen dapat memainkan peran penting dalam mobilitas berkelanjutan di mana ketahanan energi dan kebutuhan operasional yang tinggi menjadi hal yang sangat krusial,” ucap Shinichi Yasui, Executive Vice President, R&D, Toyota Motor Europe.
“Dengan memajukan teknologi fuel cell kami dan bekerja sama dengan para mitra di seluruh rantai nilai, Toyota bertujuan untuk membantu membangun ekosistem yang dibutuhkan agar mobilitas hidrogen dapat diterapkan secara lebih luas,” sambungnya, Kamis (17/9/2026).
Baca Juga: Profil New Toyota Hilux BEV, Kasta Tertinggi Keluarga Hilux di Indonesia
Pameran IAA Transportation Hannover menjadi panggung utama demonstrasi seluruh produk kendaraan komersial Toyota Eropa. Penjualan kendaraan niaga ringan pabrikan ini dilaporkan melonjak dua kali lipat dalam kurun waktu lima tahun.
Toyota pun juga menargetkan volume penjualan kendaraan niaga ringan menembus angka 165.000 unit dengan pangsa pasar mencapai 7%. Target jangka panjang perusahaan ditargetkan mencapai angka 200.000 unit saban tahunnya pada 2030 mendatang.











