MobilKomersial.com — PT BYD Motor Indonesia resmi mengoperasikan fasilitas pabrik perakitan kendaraannya di kawasan Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat, pada Kamis (3/9/2026). Langkah strategis ini menandai babak baru kiprah BYD di Tanah Air.
Langkah manufaktur ini secara tegas mengakhiri masa transisi BYD yang selama lebih dari dua tahun mengandalkan impor kendaraan utuh. Kini, BYD siap memperkuat posisinya secara lokal guna menguasai pangsa pasar kendaraan ramah lingkungan.
Baca Juga: BYD M6 DM Terbukti Hemat Biaya Perawatan Sampai 30 Persen, Ini Rahasianya
Pembangunan fasilitas manufaktur ini dipandang sebagai bagian dari perjalanan panjang serta visi global BYD dalam mengembangkan kendaraan energi baru. Komitmen tersebut kini diwujudkan secara nyata melalui investasi megah di Indonesia.
“Hari ini akhirnya kami bisa merealisasikan impian kami 30 tahun yang lalu,” ungkap Liu Xueliang selaku Vice President BYD Co Ltd sekaligus General Manager BYD Asia Pacific Auto Sales Division, dalam peresmiannya, Kamis (3/8/2026).

Liu juga membeberkan rekam jejak transformasi radikal sang produsen otomotif asal Tiongkok tersebut. Langkah berani BYD terbukti mampu mengubah peta persaingan otomotif global secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Di tahun 2022, BYD jadi merek mobil pertama yang berhenti memproduksi mobil konvensional,” katanya. Kebijakan strategis itu menegaskan fokus penuh BYD pada penguasaan teknologi kendaraan listrik dan hibrida di pasar global.
Fasilitas produksi BYD di Subang berdiri di atas lahan seluas 126 hektare. Pabrik ini dirancang dengan kapasitas produksi mencapai 150.000 unit per tahun demi memenuhi lonjakan permintaan pasar domestik maupun regional.
Baca Juga: Resmi Masuk Indonesia, Ini Rahasia Di Balik Teknologi DM BYD yang Bisa Tembus 65 Kpl!
Pabrik modern ini mengintegrasikan seluruh tahapan manufaktur utama secara mandiri. “100 persen proses produksi mobil sudah dipindah ke Indonesia, dari stamping, welding, painting, dan assembly,” jelas Liu secara terperinci.
Penyerapan tenaga kerja lokal turut menjadi fokus utama keberadaan pabrik ini. Saat ini jumlah pegawai sudah menembus 5.000 orang dan berpotensi melonjak hingga lebih dari 20.000 orang ketika pabrik beroperasi penuh kelak.
Sektor penjualan BYD di Tanah Air juga mencatatkan rekor pertumbuhan yang impresif. “Jumlah penjualan BYD di Indonesia sudah hampir 100.000 unit. Kami punya target di tahun depan menjadi 200.000 unit,” ujar Liu penuh optimisme.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai kehadiran pabrik BYD sangat krusial. Investasi ini menjadi motor penggerak percepatan transformasi industri otomotif nasional menuju era kendaraan ramah lingkungan.
“Transformasi market menuju green mobility harus lebih cepat. Beliau (Presiden Prabowo) menyampaikan BYD harus sukses di Indonesia,” kata Agus. Pemerintah berkomitmen penuh mendukung iklim investasi otomotif berkelanjutan.
Baca Juga: Setara Isi Bensin! Blade Battery Generasi 2 BYD Bisa Cas 10-70% Hanya 5 Menit
Agus menyebutkan bahwa realisasi investasi megah ini membutuhkan waktu serta pengawalan ketat. “Realisasi investasi hingga berdirinya pabrik BYD di Indonesia, ini merupakan proses yang sangat panjang,” ungkapnya.
Ia turut memberikan apresiasi khusus atas peran penting Luhut Binsar Pandjaitan. “Bapak Luhut berperan penting mengawal investasi strategis, termasuk BYD, lewat pengawalan langsung ke pabrik BYD di Shenzen,” pungkas Agus.










