MobilKomersial.com — Biodiesel di Indonesia saat ini memiliki tantangan berupa kandungan sulfur sebesar 2500 ppm, yang menimbulkan pertanyaan bagi para pengguna dan produsen otomotif terkait kelayakan dan dampaknya terhadap lingkungan.
Padahal, konsensus internasional untuk bahan bakar diesel adalah memiliki kandungan sulfur sebesar 10 ppm. Dengan meningkatkan kualitas biodiesel, kendaraan dapat menjadi lebih ramah lingkungan dan memenuhi standar EPA (Environmental Protection Agency).
Baca Juga: Bukan Cuma Diganti, Pahami Oksidasi Oli sebagai Alarm Dini Kerusakan Mesin
Namun, kini ada solusi teknis yang dapat meningkatkan kualitasnya secara signifikan. Arief Hidayat M.Eng., seorang pakar bidang otomotif sekaligus CEO Wealthy Group menjelaskan bahwa kualitas biodiesel dapat ditingkatkan untuk memenuhi standar global.
“Ada beberapa metode yang dapat diterapkan untuk menurunkan kadar sulfur, sehingga kendaraan yang menggunakan bahan bakar ini menjadi lebih ramah lingkungan dan memenuhi standar EPA,” ucapnya kepada MobilKomersial.com, Selasa (5/8/2025).

Dirinya memaparkan, di antara metode yang paling efektif adalah hydrotreating. Proses ini melibatkan reaksi senyawa sulfur dengan gas hidrogen (H2) yang dapat berlangsung pada suhu tinggi 300-400°C (572-752°F) dan tekanan 20-100 bar (290-1450 psi).
Untuk mempercepat reaksi, lanjutnya, digunakan katalis khusus seperti Kobalt-Molibdenum (CoMo) atau Nikel-Molibdenum (NiMo). Tujuannya adalah mengubah senyawa sulfur menjadi hidrogen sulfida (H2S), yang kemudian dapat dengan mudah dipisahkan.
Selain hydrotreating, metode lain yang juga bisa diterapkan meliputi:
- Pemilihan bahan baku: Menggunakan bahan baku dengan kandungan sulfur rendah, seperti minyak nabati atau lemak hewani.
- Adsorpsi: Memanfaatkan material khusus untuk menyerap pengotor sulfur.
- Pencampuran: Menggabungkan biodiesel dengan bahan bakar yang memiliki kadar sulfur rendah.
- Penggunaan aditif: Menambahkan zat pereduksi sulfur untuk meningkatkan kualitas bahan bakar.
Baca Juga: Revolusi Selang Bahan Bakar: Mengapa NBR Mulai Ditinggalkan? Ini Kata Ahlinya
Dengan menerapkan metode-metode ini, biodiesel di Indonesia berpotensi besar untuk memenuhi standar regulasi internasional, termasuk standar ASTM (American Society for Testing and Materials) S15 dengan kandungan sulfur maksimum 15 ppm.
“Peningkatan kualitas ini tidak hanya mengurangi emisi sulfur, tetapi juga meningkatkan performa bahan bakar dan memperpanjang umur katalis pada proses hilir. Ini jadi langkah penting bagi Indonesia untuk berkontribusi pada lingkungan yang lebih bersih,” tegas Arief.











