Jakarta, MobilKomersial.com – Tren kendaraan listrik mulai merambah ke kendaraan komersial, terutama truk. Potensi pasar kendaraan listrik yang cukup besar membuat semua pabrikan berlomba-lomba ikut berperan menghadirkan produk yang diklaim paling ramah lingkungan dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar bensin dan solar. Namun, benarkah kendaran listrik benar-benar ramah lingkungan? 

Head of Sustainability Scania Andreas Follér mempertanyakan, benarkah kendaraan komersial listrik benar-benar ramah lingkungan, terutama ketika dilihat secara menyeluruh proses pembuatannya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Scania melakukan study terkait kendaraan listrik, terutama untuk melihat dampaknya bagi lingkungan. Life Cycle Assessment merupakan metode ISO 14040/44 yang digunakan untuk menghitung dampak lingkungan dari produk, yang mencakup seluruh siklus hidup dari awal hingga akhir. Adapun yang dihitung di sini mulai dari ekstraksi dan pemurnian bahan mentah dan berakhir pada pemulihan kendaraan.

Baca juga: Ternyata Ini Rahasia Scania 5 Kali Sabet Gelar “Truk Hijau” di Kompetisi Efisiensi

Follér melihat, produksi kendaraan listrik baterai membawa dampak lingkungan yang lebih tinggi, terutama karena pembuatan sel baterai yang intensif energi. Meski demikian, dampak siklus hidup total pada perubahan iklim secara dramatis lebih baik untuk kendaraan listrik baterai, berkat dampak karbon yang jauh lebih rendah dari fase penggunaan.

Untuk truk yang beroperasi di UE, lanjut Follér, pihaknya mengurangi emisi karbon siklus hidup sebesar 38% (campuran UE 2016) menjadi 63% (perkiraan campuran UE 2030). 

”Jika kita beralih ke listrik hijau, kita mencapai pengurangan emisi karbon selama siklus hidup 86%. Kendaraan listrik baterai memiliki potensi dampak iklim yang lebih kecil dibandingkan kendaraan dengan mesin pembakaran internal yang sudah beroperasi dalam satu atau dua tahun. Ini mencakup semua campuran listrik yang diselidiki dalam laporan,” jelas Follér, dilansir dari laman resminya.

Meski terbilang ramah lingkungan, produksi sel baterai juga berkontribusi menyumbang 40% emisi karbon. Oleh karena itu, diharapkan agar industri baterai terus menerus melakukan dekarbonasi dan menggunakan listrik hijau.

Baca juga: Grup Masico Datangkan 16 Truk Scania untuk Angkut Material Tanah

“Kami berharap bahwa total biaya operasi untuk sebagian besar pelanggan kami akan positif untuk kendaraan listrik baterai selama dekade ini dan setengah volume kami mungkin memiliki driveline listrik pada tahun 2030. Perlombaan menuju nol emisi adalah tentang dekarbonisasi proses dan bahan yang dibutuhkan untuk merakit truk dan bus masa depan,” kata Follér.

Komitmen untuk melakukan dekarbonasi, Scania melakukan kemitraan dengan berbagai stakeholder. Northvolt disebut-sebut sebagai salah satu partnernya dalam menghasilkan baterai paling ramah lingkungan di dunia. 

Selain baterai, baja juga menjadi sumber karbon pada truk karena produksinya sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Agar dapat menjadi truk hijau, Scania berkolaborasi dengan Green Steel untuk menuju truk tanpa emisi di tahun 2030.

 

Share :

Scania Hadir di MINExpo 2021, Tawarkan Truk Tambang Minim Emisi

Semua truk pertambangan Scania dapat ditenagai oleh mesin Euro 5 atau 6

Read More
Daimler Indonesia Kenalkan Fitur Keselamatan Baru Pada Truk Mercedes-Benz

PT Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI) memperkenalkan fitur keselamatan baru pada truk heavy duty Mercedes-Benz Actros dan Arocs. Fitur-fitur keselamatan tersebut antara lain MirrorCam, yang membantu pen

Read More
Hino Kenalkan Truk Listrik Sel Bahan Bakar Hidrogen Kelas 8

Hino Trucks mengumumkan bahwa mereka sedang membangun truk listrik sel bahan bakar hidrogen Kelas 8.

Read More
honda

Terkini

Terpopuler