us Rakitan Karoseri Laksana Dipakai Kesebelasan Negara Fiji

Setelah Fiji, Karoseri Laksana Mulai Ekspor Bus Rakitannya ke Bangladesh

Jakarta, MobilKomersial.com – Karoseri Laksana memperluas market ekspor bus rakitannya ke Bangladesh, Asia Selatan. Setelah 10 tahun mengekspor bus rakitan mereka ke Fiji dan dipakai oleh klub sepakbola negara tersebut, saat ini, Karoseri asal Ungaran, Jawa Tengah itu sedang melakukan pengurusan dokumen menuju Bangladesh.

Direktur Teknik Laksana Bus, Stefan Arman mengatakan, bahwa pihaknya sedang menyiapkan dokumen-dokumen untuk ekspor ke Bangladesh. “Saat ini kita sedang proses pengurusan dokumen dan lain-lain untuk ekspor ke negara tujuan baru di Bangladesh. Sebelumnya kita sudah ekspor hampir 200 unit ke negara Kepulauan Fiji,” ungkapnya dikutip dari detikOto, Jumat (4/5/2018).

Hingga saat ini, pihaknya memang baru bekerjasama dengan Fiji dan Bangladesh sebagai tujuan ekspor, karena tantangan industri otomotif pada tiap negara tujuan memang tak mudah. “Kita harus mengetahui regulasi-regulasi yang berlaku di sana. Jadi, kita tidak sekadar mengekspor bus yang sesuai standar di Indonesia, tapi kita juga harus melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai UU yang berlaku di sana,” terang Arman.

Aturan-aturan tersebut, sambung Arman, biasanya kerap berbeda dengan aturan yang ada di Indonesia atau tidak akan sama 100 persen. “Sering kali ada perbedaan antara peraturan di Indonesia, Fiji, dan negara lainnya,” sambungnya.

UU ECE-R66 Uji Guling

Dari sekian banyak regulasi yang mesti dipelajari, salah satunya adalah undang-undang tentang standar UU ECE-R66 mengenai uji kemampuan bus saat terguling. Standar R66 berlaku untuk kendaraan dek tunggal yang dirancang untuk pengangkutan lebih dari 22 penumpang, baik dalam posisi duduk atau berdiri, selain pengemudi dan kernet.

Persyaratan peraturan ini juga berkenaan dengan kekuatan suprastruktur yang cukup menentukan. Tiga parameter tadi adalah; kekuatan struktural, potensi energi, dan ruang sisa.

Untuk memenuhi standar ini Laksana melibatkan beberapa pihak, seperti Kementerian Perhubungan, Institut Teknologi Bandung, dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Dengan memenuhi standar UN ECE-R66, Arman berharap pihaknya dapat memperluas pasar ekspor selain dua negara tersebut, terutama untuk negara-negara yang telah menerapkan regulasi tersebut.

Untuk tahap awal, sebanyak 4 unit bus telah dikapalkan menuju Bangladesh. Walau tak merinci model apa saja yang diekspor, Laksana berharap total ekspor bus dapat meningkat menjadi sekitar 30 unit bus per bulan.

Tinggalkan Balasan