Nur Arif, sopir bu perak di kota Semarang Jawa Tengah

Kenal Lebih Dekat dengan Bus Perak, Bus Legendaris Asal Semarang

Berita Terkini Bisnis Bus & Truk Transportasi

Kenal Lebih Dekat dengan Bus Perak, Bus Legendaris Asal Semarang

Jakarta, MobilKomersial.com – Menelusuri jejak-jejak transportasi legendaris di Kota Semarang memang sangat beragam. Selain bus kawin atau bus tingkat yang melegenda, masyarakat kota lumpia sangat akrab dengan Bus Perak.

Bus Perak adalah moda transportasi warga yang khusus melayani para pelayat. Dulu, orang Semarang menamai bus carteran ini dengan bus lelayu.

Bus Perak memang hampir seratus persen sama dengan bus lain tempo dulu. Dinamakan Bus Perak lantaran perusahaan bus ini bernama PO Perak Jaya yang beralamat di Jalan Dr. Cipto Semarang. Pemilik transportasi legendaris itu bernama Hendro Wibawa.

Bus Perak berjaya di era 1980-an. Kala itu, bus berkapasitas 50 kursi bahkan kewalahan menerima order carteran untuk para rombongan pelayat atau pun peziarah di dalam maupun luar kota.

“Bus Perak sudah ada sejak 1975 silam. Memang hanya fokus melayani para rombongan pelayat. Tarifnya cuma Rp450 ribu,” kata Nur Arif, seorang sopir Bus Perak.

Pria yang telah bekerja di Bus Perak selama 30 tahun itu berkisah, pada masa jayanya hanya Bus Perak yang menjadi pemain tunggal sektor jasa bus lelayu di Jawa Tengah. Kala itu Bus Perak memiliki banyak sopir yang mengangkut rombongan pelayat saban hari. Paling banyak para sopir adalah pensiunan tentara.

“Sekarang sopirnya banyak yang meninggal, lainnya sudah tua-tua. Kalau dulu, sopir Bus Perak kebanyakan dari pensiunan TNI. Ketimbang nganggur, mereka pilih nyopir,” katanya.

Pasang-surut

Bisnis Bus Perak memang tak selalu langgeng. Meski masih menerima carteran pelayat, pamor Bus Perak semakin pudar seiring lahirnya bus-bus baru yang lebih modern.

Mati segan tapi hidup pun enggan. Begitulah ungkapan yang sesuai dengan kondisi bus pelayat legendaris Semarang itu.

Kondisi itu terlihat dari perusahaan bus yang berada persis di samping SMA Sedes Jalan Dr. Cipto. Selain papan nama pabrik yang telah kusam, beberapa armada bus pun terlihat pasrah terparkir rapi.

“Orderan selalu sepi. Saat ini ramai-ramainya paling cuma hari Selasa dan Minggu,” ujar pria kelahiran Jepara itu.

Kondisi tragis Bus Perak diakui karena makin banyak perusahaan bus baru dengan fasilitas penunjang lebih lengkap. Apalagi bus-bus lain tak hanya menerima orderan pelayat.

Sementara itu, jumlah armada Bus Perak kini semakin berkurang seiring sulitnya mencari onderdil di pasaran. Mesin Bus Perak keluaran mesin tahun 1987-1988 dan sudah tidak dijual di pasaran. Agar tetap bertahan, Bus Perak bekerja sama dengan sejumlah yayasan lelayu di Semarang.

“Sopirnya kini hanya tersisa dua orang, termasuk saya. Paling mengantar pelayat ke pekuburan China Kedumgmundu, TPU Trunojoyo, Karangroto atau Bergota. Sekitaran Semarang,” kata Arif.

Arif kini hanya bisa pasrah dengan karier yang tak cemerlang seperti dulu. Untuk tiap kali jalan ia ikhlas dibayar Rp60 ribu. Namun, jika tidak ada pelanggan, ia harus rela tak dibayar.

Sumber : viva.co.id

Tinggalkan Balasan