Ketika “Egois” Menguasai Jalanan Ibu Kota

lawan arahhJakarta, MobilKomersial.com – Entah harus cepat sampai tujuan atau memang sudah mengakar, banyak pengendara di jalanan kota Jakarta khususnya mempunyai “hobi” melanggar peraturan lalu lintas. Seakan tidak takut mati, apalagi polisi.

Sudah bukan hal tabu lagi pedestrian yang sebenarnya diperuntukan untuk pejalan kaki, beralih fungsi menjadi jalur motor dadakan ataupun juga menjadi sebuah “toko”, karena banyak sekali orang berjualan di sana. Belum lagi Transjakarta, yang kini harus berbagi tempat dengan pengendara lain, baik mobil maupun motor.

Berbagai cara sudah dilakukan kepolisian dan juga Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, sebagai pihak yang paling berkompeten dalam membuat peraturan untuk menanggulangi permasalahan ini. Biar bagaimanapun, hal ini erat kaitannya dengan “hantu” Ibu Kota, yaitu kemacetan.

Pada akhir tahun 2013, Kepolisian yang bekerjasama dengan Kejaksaan dan Pengadilan memberlakukan denda maksimal bagi penerobos jalur Transjakarta, atau yang dikenal dengan busway. Pada saat itu peraturan baru tersebut sukses menjaring ratusan bahkan ribuan kendaraan yang melanggar.

Bukan pengendara Ibu Kota namanya jika tak mempunyai sisi kontroversi. Banyak pihak, atau pelanggar khususnya yang beranggapan bahwa polisi sengaja membiarkan kendaraan untuk masuk ke busway. Tetapi, sudah ada petugas yang menunggu di ujung jalur untuk menilang kendaraan yang melanggar.pelanggaran busway

Seorang teman mengatakan, “Sengaja tuh, polisi nunggu di ujung. Biar ditilang, terus ujung-ujungnya ‘damai’,” ujarnya pada saat itu. Memang, kita tak dapat menampik bahwa masih ada oknum kepolisian yang bisa diajak kompromi jika ada pengendara yang tertangkap melakukan pelanggaran lalu lintas.

Jika diratik ke belakang, sebelum Anda memasuki jalur Transjakarta, sudah banyak rambu-rambu yang menyebut bahwa kendaraan selain bus Transjakarta dilarang memasuki jalur khusus itu. Pernyataan itu kembali ditampik oleh teman saya tadi. “Kenapa (polisi) jaganya harus di ujung jalur. kenapa tidak di depan, ketika mau masuk ke busway. Sengaja banget!,” sangkalnya.

Komentar seperti di atas bukanlah komentar satu orang saja, tetapi masih banyak pengendara yang mempunyai pemikiran yang sama seperti seorang teman tadi. Hal tersebut semakin memperlihatkan keprihatinan kondisi yang ada di jalanan Jakarta. Keegoisan sudah mengalahkan kebijakan dalam berkendara.

Seharusnya polisi tak perlu selalu berjaga di pintu masuk jalur Transjakarta, karena sangat jelas, banyak rambu larangan di pintu masuk jalur yang melarang kendaraan untuk masuk selain bus Transjakarta.

Lalu pedestrian, atau yang biasa disebut trotoar. Sang “tuan rumah”, pejalan kaki terpaksa harus menyingkir karena di saat jam-jam tertentu beralih fungsi sebagai jalur dadakan bagi sepeda motor. Mirisnya, sering terdengar suara klakson sepeda motor tersebut yang ditujukan bagi pejalan kaki agar menyingkir.trotoar

Masih banyak lagi “dosa” pengendara yang dipertontonkan di hampir setiap harinya di kerasnya jalanan Kota Megapolitan ini. sebut saja melawan arus, menerobos lampu merah hingga pesepeda motor yang tak menggunakan helm, yang seakan menjadi hal lumrah yang sangat susah untuk diubah.

Apalagi kalau sudah konvoi, sangat rawan terjadi pelanggaran. Masih ingat kasus seorang pesepeda yang menghadang rombongan moge ketika menerobos lampu merah? Ia malah mendapat perlawanan dari salah seorang anggota moge tersebut.

Keegoisan ini diperlihatkan oleh semua kalangan, dari rakyat biasa hingga pejabat. Dari mobil tua hingga mobil premium. Dari mobil berplat hitam hingga berplat merah, bahkan berplat khusus.

lawan arahBelum lagi transportasi umum. Banyak yang menurunkan penumpang tak pada tempatnya, ngetem, bahkan tak jarang ugal-ugalan yang berhujung kematian akibat kecelakaan lalu lintas. Bukan hanya pengendara saja yang dirugikan oleh kebanyakan bus kota di Jakarta, tetapi alam juga merasakan keegoisannya, yaitu dengan menyumbang polusi dari gas buang kendaraan.

Satu lagi hal kecil yang mencerminkan jalanan Jakarta, yaitu sudah langkanya zebra cross yang biasa ditemukan di jalanan, khususnya di lampu lalu lintas, atau yang biasa disebut dengan lampu merah. Banyak kendaraan yang “offside” di lampu merah sehingga menutupi zebra cross. Tak jarang, pejalan kaki harus berjalan hingga ke depannya yang dapat membahayakan nyawanya, karena terdapat kendaraan lain di jalur lainnya. Belum lagi kendaraan dari berlawanan arah yang tak dapat lewat karena jalurnya sudah tertutup kendaraan yang “offside” tadi hingga menyebabkan kemacetan.

Hal ini tentunya harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah hingga lembaga terkait untuk mencari solusi permasalahan yang “dibudidayakan” ini. Jika tidak, “bom waktu” ini akan meledak dan menghancurkan Jakarta, yang notabene sebagai pusat pemerintahan dan Ibu Kota Indonesia.lampu merah nyebrang

Sangat pusing mikirin Jakarta. Sangat malu melihatnya. Akan tetapi, yang terpenting sebenarnya ialah dari diri kita sendiri. Harus menanamkan fundamental kebijakan dalam berkendara. Karena apapun peraturannya, seberat apapun konsekuensinya, tak akan cukup ampuh untuk mengubah prilaku berkendara.

Ingat, bukan hanya kita yang dirugikan, tetapi banyak pengendara lain juga akan merugi akibat segelintir orang egois dalam berkendara. Hal ini harus kita renungkan, pikirkan dan implementasikan. Jika tidak, hal itu akan menjadi pemikiran usang yang perlahan akan hilang.

Bijaklah berkendara, keluarga Anda menunggu di rumah.

 

 

 

 

Hits: 45

Tinggalkan Balasan