Cikar, Armada Cikal Bakal Perum DAMRI di Indonesia

Galat basis data WordPress: [Got error 28 from storage engine]
SHOW FULL COLUMNS FROM `wp_options`

Galat basis data WordPress: [Got error 28 from storage engine]
SHOW FULL COLUMNS FROM `wp_options`

Galat basis data WordPress: [Got error 28 from storage engine]
SHOW FULL COLUMNS FROM `wp_options`

Foto: Pecinta Damri
Foto: Pecinta Damri

Jakarta, MobilKomersial.com – Jika Anda biasa naik bus DAMRI dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, sesekali Anda akan menemukan atau pernah menaiki bus DAMRI angkutan pemadu moda bandara dengan gambar gerobak kayu ditarik sepasang lembu di bodi sampingnya.

Itu sebenarnya bukan gambar biasa, lantaran sebenarnya gerobak kayu yang ditarik sepasang lembu tersebut merupakan cikal-bakal keberadaan Perusahaan Umum Djawatan Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (Damri) di Tanah Air.

Manajemen Perum Damri sengaja memasang gambar gerobak ditarik sepasang lembu atau cikar dalam bahasa Jawa sebagai pengingat bahwa Damri bisa sebesar sekarang karena jasa angkutan rintisan tradisional tersebut di masa lalu. Bus DAMRI dengan gambar cikar ini antara lain bisa ditemukan di armada bus DAMRI berkelir biru untuk angkutan pemadu moda ke Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, bodi Ultima produksi karoseri Trisakti, Magelang.

Gambar cikar ini juga bisa kita temukan di bus antarkota eksekutif Damri Jakarta-Lampung bodi Tourismo garapan Karoseri Morodadi Prima, Malang.

Cikal-bakal berdirinya Perum DAMRI berawal dari tahun 1943, ketika di masa penjajahan Jepang di Indonesia berdiri dua perusahaan angkutan bernama Jawa Unyu Jigyosa yang fokus melayani angkutan barang menggunakan truk dan cikar serta Dzidosha Sokyoku, yang melayani angkutan penumpang dengan menggunakan kendaraan bermotor (bus).

Saat Indonesia merdeka di tahun 1945, Jawa Unyu Jigyosa dinasionalisasi dan dikelola oleh Kementerian Perhoebongan RI, pada saat itu. Namanya kemudian diubah menjadi Djawatan Pengangkoetan untuk angkoetan barang. Sementara,  Dzidosha Sokyoku yang juga dinasionalisasi oleh Pemerintah RI, berganti nama menjadi ‘Djawatan Angkutan Darat’ yang tetap fokus melayani angkutan penumpang.

Seperti dikutip dari situs DAMRI, pada 25 November 1946, kedua jawatan angkutan tersebut dilebur menjadi satu perusahaan setelah terbitnya Maklomeat Menteri Perhubungan RI Nomor 01/DAM/46 Tahun 1946. Badan usaha hasil peleburan kedua perusahaan diberi nama ‘Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia’ disingkat DAMRI. Tugas utamanya adalah menyelenggarakan pengangkutan darat dengan bus, truk dan angkutan bermotor lainnya untuk masyarakat Indonesia.

Saat perang melawan Belanda yang berusaha melanjutkan penjajahannya di Indonesia lewat agresi militernya di Pulau Jawa, DAMRI ikut memainkan perannya mendukung perjuangan para gerilyawan mempertahankan Tanah Air.

Seiring dengan konsolidasi di Pemerintahan RI, tahun 1961 status DAMRI diubah menjadi Badan Pimpinan Umum Perusahaan Negara (BPUPN) mengacu pada Peraturan Pemerintah No.233 Tahun 1961. Di 1965 BPUPN dihapus dan DAMRI ditetapkan menjadi Perusahaan Negara (PN). Sejak 1982, DAMRI beralih status menjadi Perusahaan Umum (PERUM) dan status ini terus dipertahankan hingga kini.

Sebagai BUMN berstatus perusahaan umum, DAMRI tidak hanya mencari keuntungan bisnis dalam menjalankan bisnis angkutannya. BUMN ini juga menjalankan misi PSO (public service obligation) dengan mengelola angkutan perintis di sejumlah daerah pelosok Tanah Air, misalnya di Kupang, dan Gorontalo. Bisnis DAMRI kini berkembang pesat.

Selain melayani angkutan pemadu moda dari dan ke bandara di sejumlah bandara di Tanah Air, DAMRI juga mengelola bisnis bus angkutan antarkota (AKAP), bus shuttle antarkota, angkutan bus pariwisata (charter) dan bus kota. Layanan bus shuttle ini antara lain bisa ditemukan di trayek Bandung-Pekalongan, sementara layanan bus kota DAMRI antara lain terdapat di Kota Surabaya.

 

 

Penulis: M. Arif

Tinggalkan Balasan