home Berita Terkini, Karoseri, Profil Bermodalkan Rp 1 Juta, Kini Haryanto Miliki Perusahaan Otobus

Bermodalkan Rp 1 Juta, Kini Haryanto Miliki Perusahaan Otobus

Foto: istimewa
Foto: istimewa

Jakarta, MobilKomersial.com – Keberanian keluar dari jalur telah mengubah hidupnya. Dimulai dari keluar SMK yang ia rasa tak cocok dengan jurusan mesin, dan yang patut diacungi jempol ialah keberaniannya memutuskan untuk mengakhiri karir sebagai anggota TNI setelah mengabdi selama 20 tahun.

Terlahir sebagai seorang anak buruh tani, membuat Haryanto harus bekerja lebih keras demi mencapai sebuah kata “mapan”. Usahanya tak sia-sia, kini ia mempunyai perusahaan otobus dengan memiliki 83 bus eksekutif dan ia juga memiliki 150 unit angkutan kota (angkot) yang merajai seluruh trayek di Tangerang.

Lahir di Kudus, Jawa Tengah, Haryanto kecil sudah terbiasa bekerja keras, mulai menggembala sapi milik tetangga dan juga berjualan es. Petualangannya dimulai sejak ia memutuskan untuk hijrah ke Tangerang dan tak melanjutkan lagi pendidikannya.

Bertujuan untuk mengubah nasibnya, di Tangerang anak keenam dari sebelas bersaudara ini mendaftar sebagai anggota TNI, seperti cita-citanya semasa kecil. Tahun 1979 Haryanto memulai karirnya di kesatuan Angkatan Udara Kostrad, dengan penghasilan Rp 18.000 per bulannya.

“Saya dididik jadi pengemudi, tugas saya mengangkut alat-alat berat, meriam, beras untuk konsumsi dan perminyakan,” ujar Haryanto seperti dikutip laman Facebook akun PO. Haryanto.

Tahun 1982 Haryanto menikah dengan teman hidupnya. Tetapi, walau sudah memiliki pekerjaan sambilan sebagai sopir angkot, permasalahan ekonomi keluarga Haryanto tak kunjung membaik. Banyak kebutuhan hidup mereka yang terbengkalai dan tak mampu membayar sewa rumah berukuran 3×4 meter yang mereka tempati.

Hal itulah yang membuat Haryanto harus memutar otak demi membahagiakan orang yang ia cintai. Lalu pada tahun 1984 dengan modal kurang dari Rp 1 juta, Haryanto melakukan “perjudian” dengan membeli satu unit mobil Daihatsu yang digunakannya sebagai angkot, dengan rute Pasar Anyar-Serpong.

Di sela-sela waktu bekerja sebagai sopir kendaraan militer di kesatuannya, Haryanto pun meluangkan waktunya untuk menyopiri angkotnya. Sepanjang hari ia menyopir angkotnya pada pukul 15.00-16.00, kemudian bekerja di Kostrad hingga pukul 19.00. Selepas pukul 22.00, ia mulai mengemudikan angkotnya lagi hingga dini hari. Suka tidak suka, Haryanto harus mengurangi waktu tidurnya demi menafkahi istri dan ketiga anaknya. Kerja keras selalu membuahkan hasil. Tahun-tahun berikutnya Haryanto terus membeli unit angkot dari uang yang berhasil ia sisihkan.PO Haryanto

Ternyata tak hanya dari hasil angkot saja, pada tahun 1990-2000 Haryanto memiliki pekerjaan sambilan sebagai perwakilan bus PO Sumber Urip. Hingga akhirnya pada tahun 2002 ia memberanikan mengakhiri karirnya di militer dan beralih profesi sebagai pengusaha, terlebih pada tahun tersebut ia memiliki “mainan” baru, yaitu mendirikan PO Haryanto.

Awalnya PO Haryanto memiliki enam unit bus kelas ekonomi yang memiliki rute Cikarang-Cimone. Tapi sayang, rute tersebut sepi penumpang. Tak ingin larut dalam kesedihan, Haryanto beralih ke bus eksekutif yang melayani rute Jakarta-Kudus, Jakarta-Jepara dan Jakarta-Pati.

Kini usahanya tersebut melesat. tak kurang 500 orang tercatat sebagai karyawannya. Roda bisnis Haryanto kini menjelma menjadi kekuatan baru para kompetitornya.

Bersyukur merupakan sebuah kewajiban berwujud hal kecil yang seringkali dilupakan seseorang. Haryanto sadar betul tak akan menggapai kesuksesan tanpa bantuan karyawannya.

Untuk itu ia pun berikrar di Tanah Suci, untuk bisa memberangkatkan seluruh karyawannya naik haji. Tradisi tersebut masih ia jaga hingga saat ini. bagi karyawan yang rajin dan tekun beribadah, Haryanto tak segan untuk memberikan tiket demi menggenapkan rukun islam tersebut.

Satu hal yang bisa kita dapat, kerjakeras dan selalu bersyukur atas apa yang kita dapat merupakan sebuah tiket untuk mencapai level berikutnya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: