home Berita Terkini, Transportasi Kontroversi si “Taksi Hitam” Uber

Kontroversi si “Taksi Hitam” Uber

image-mobkom-Jakarta, MobilKomersial.com – Satu lagi moda transportasi baru hadir di Indonesia; Uber. Layanan yang dirintis lima tahun lalu di San Francisco, Amerika Serikat, ini kini sudah menginjakkan kakinya di Jakarta pada 13 Agustus 2014.

Lahir sebagai layanan taksi, Uber tergolong aplikatif dan mudah guna. Pengguna cukup mengunduh aplikasinya di Google Play ataupun Apple App Store melalui smartphone yang mengusung sistem Android maupun iOS. Setelah mengoperasikannya, pengguna dapat memilih rute, jenis kendaraan, maupun memantau posisi taxi tersebut melalui GPS.

Tarif yang dikenakan pun tergolong terjangkau. Sebab kendaraan yang dijadikan taksi hitam adalah kendaraan-kendaraan premium seperti Hyundai Sonata atau Mercedes-Benz S Class. Namun kelas menengah seperti Toyota Innova pun disediakan.

Untuk bukaan awal, pengguna dikenakan tarif minimal Rp30 ribu. Sedangkan untuk beberapa rute khusus, tarif flat diberlakukan, seperti ke bandara. Namun untuk dasarnya, tarifnya bersaing dengan perusahaan taxi yang lain dengan argo awal sebesar Rp7 ribu.

Sejauh ini nampak jelas dan menjanjikan, namun dimanakah kontroversinya?

image-mobkom-
Foto: Wired.com

Uber dikategorikan sebagai layanan transportasi namun belum memiliki izin yang legal. Di Jerman sendiri, khususnya Berlin, pemerintah setempat melarang penggunaan taksi tersebut karena dapat membahayakan penumpang.

Dinilai, Uber yang bekerjasama dengan perusahaan persewaan mobil dinilai tidak legal karena tidak memiliki izin jalan. Penumpang pun tidak diasuransikan apabila terjadi kasus yang mengakibatkan penumpang terluka.

Sementara di Tanah Air, hal yang sama terjadi. Uber datang ke Indonesia dengan tidak memiliki izin operasional. Banyak pihak pun merasa tidak nyaman akan status tersebut.

Seperti diungkapkan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok), dirinya berpendapat bila layanan taksi Uber merugikan banyak pihak. Termasuk didalamnya perusahaan taksi lain yang sudah beroperasi.

“Pertama merugikan, kedua enggak ada perusahaannya segala macam atau terjadi apa-apa yang tidak diharapkan, yang tanggung jawab siapa? Kita kan selalu ajarkan kalo naik taksi baca dulu itu apa, nah pertanyaannya Uber ini punya siapa?” begitulah jelas Ahok kepada awak media, seperti dikutip dari Detik (19/08).

image-mobkom-
Foto: wJs.com

Memang bila dipandang secara langsung, taksi Uber yang beroperasi tidak selayaknya taksi normal di Indonesia pada umumnya. Mobil sewaan Uber juga masih menggunakan plat hitam layaknya mobil-mobil pribadi lainnya.

Pihak Dinas Perhubungan DKI Jakarta melalui Kadishub, Muhammad Akbar, menjelaskan bila jasa sewa mobil keliling Jakarta yang disediakan oleh Uber dinyatakan ilegal. Pasalnya meski pembayaran Uber menggunakan kartu kredit, tetap saja dinilai sebagai perushaan transportasi umum.

“Biar sistem pembayaran rental Uber melalui kartu kredit, tetap saja. Karena layanan Uber harus mengurus izin operasionalnya terlebih dahulu. Kalau dia (Uber) mau legal, harus dapat izin angkutan umum dulu,” ujar Akbar, seperti dikutip dari Liputan6.com (18/08).

Namun seperti apapun kontroversinya, sang taksi hitam Uber pun masih tetap melaju di Jakarta tuk mengantarkan penumpang. Apakah tindakan seperti di Hamburg, Jerman, akan ditempuh pemerintah, dimana setiap pengemudi yang tidak berlisensi dan kedapatan menggunakan aplikasi tersebut ditindak dengan denda? Kita tunggu saja tindakan pemerintah kota Jakarta dalam waktu-waktu dekat ini. (MOS)

Admin

Jurnalis muda yang bersemangat dan selalu ingin belajar. Sekarang berkonsentrasi dalam dunia otomotif di MobilKomersial.com

Tinggalkan Balasan