Mobkom-Image-Investasi-Michelin-Tingkatkan-Status-Indonesia

Investasi Michelin Tingkatkan Status Indonesia

Berita Terkini
Mobkom-Image-Investasi-Michelin-Tingkatkan-Status-Indonesia
Foto: Dedi Sofyan

Peresmian kerjasama antara produsen ban kelas dunia asal Prancis, Compagnie Financière Groupe Michelin, dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) yang bertujuan untuk membangun pabrik bahan baku ban di Indonesia, menorehkan nilai investasi yang fantastis, sebesar 4 triliun. Lantas, apa alasan Michelin berani berspekulasi atas dana sebesar itu di Indonesia?

CEO Michelin, Jean-Dominique Senard, mengungkapkan alasannya. Menurutnya, Indonesia akan menjadi negara yang penting di dunia dan potensial dalam hal investasi.

“Kita bukan hanya percaya, tapi sangat yakin bahwa Indonesia akan menjadi negara yang sangat penting bagi dunia di masa depan. Karenanya, untuk menjalankan bisnis sangat baik di negara ini,” beber Senard.

Dirinya juga percaya kerja sama yang dilakukannya dengan PT CAP tidak hanya akan memberikan keuntungan yang baik bagi kedua perusahaan, melainkan juga akan berimbas untuk negara Indonesia sendiri.

“Ini akan menjadi paralel untuk pertumbuhan negara. Kalau kita memproduksi kualitas bagus bahan baku ban ini, bukan hanya untuk Michelin keuntungannya tapi juga untuk Indonesia. Indonesia akan menjadi lebih terkenal juga. Itu alasannya dan kita sangat bahagia,” paparnya.

Perihal kondisi rupiah yang melemah akhir-akhir ini pun tidak menjadi sebuah hal yang berarti baginya. Dirinya percaya kondisi rupiah akan membaik seiring berjalannya waktu. “Proyek kita jangka panjang. Bagi saya persoalan mata uang adalah persoalan jangka pendek,” dtukas Senard.

Michelin dan anak usaha Chandra Asri, PT Petrokimia Butadine Indonesia (PBI), sudah resmi menandatangani perjanjian untuk membentuk sebuah anak perusahaan yang nantinya akan menjalankan pabrik tersebut. Porsi kepemilikan saham dari perusahaan patungan tersebut adalah Michelin sebesar 55 persen dan PBI sebesar 45 persen.

Pabrik yang bertempat di Cilegon, Banten itu akan memproduksi karet sintetis alias bahan baku ban. Pabrik tersebut menelan biaya investasi sebesar USD 435 juta atau setara dengan Rp 4,1 triliun. Sementara pabrik itu sendiri akan mulai dibangun pada awal 2015 dengan penyelesaian pada awal 2017 dibarengi dengan operasionalnya. (MOS)

Editor: Anton Ryadie

Hits: 8

Tinggalkan Balasan