home Berita Terkini Hi Ace di Bangkok, Citarasa Transportasi Standar dan Tak Terawat

Hi Ace di Bangkok, Citarasa Transportasi Standar dan Tak Terawat

Mobkom-Image-Hi Ace di Bangkok, Citarasa Transportasi Standar dan Tak terawat
Foto: Antonius Sulistyo

Suvarnabhumi International Airport menyambut kedatangan saya, setelah menempuh sekitar tiga jam perjalanan dari Jakarta. Keluar dari bandara, mata saya menyapu jajaran new Toyota Hi Ace yang mangkal di pelataran. Nampaknya, di Ibukota Negeri Gajah Putih ini varian tersebut jadi salah satu andalan sarana transportasi.

Seperti diketahui, varian ini pertama kali diperkenalkan pada 1967 sebagai mobil pikap, van, dan komuter. Kendaraan tersebut sangat laris di negara asalnya, Jepang, dan negara-negara Asia lainnya.

Dalam perkembangannya, Hi Ace menjadi kendaraan andalan di sejumlah negara, baik untuk pemakaian transportasi penumpang maupun dikonversi menjadi sarana transportasi lainnya.

Pada generasi pertama, sekitar tahun 1967-1977, ada beberapa tipe mesin yang tersedia, mulai dari mesin bensin 1.35L bertenaga 70 PS (51 kW) sampai versi 1.6L bertenaga 83 PS(61 kW). Mesin 1.8L berkode 16R diluncurkan pada tahun 1975.

Kian berkembang, pada generasi ke-lima, tuas transmisi Hi Ace dipindah ke dasbor mobil untuk lebih mempermudah gerak di dalam kabin. Transmisi yang tersedia antara lain manual lima percepatan dan otomatis enam percepatan. Semua model mesinnya memakai mesin 4 silinder DOHC, dengan varian bensin berkode 1TR-FE 2.000 cc atau 2TR-FE 2.700 cc dan mesin diesel berkode 2KD-FTV 2.500 cc atau 1KD-FTV 3.000 cc D-4D.

Kurang Terawat

Di Bangkok ini, varian tersebut nyatanya dioperasikan layaknya shuttle bus di Jakarta, atau lebih tepatnya taksi jenis MPV untuk mengangkut rombongan wisatawan maupun penduduk setempat ke tempat tujuan mereka. Dengan new Toyota Hi Ace itu pula saya bersama rekan-rekan media beranjak menuju Shangri-La Hotel, yang jaraknya kurang-lebih 20 menit perjalanan dari bandar udara. Kesan mewah yang sejatinya melekat pada Toyota Hi Ace di mata penduduk Indonesia, langsung sirna begitu saja.

Pasalnya, interior benar-benar standar dan bagian bagasi belakang terkesan tak terawat. Mungkin bila di Indonesia bisa disejajarkan seperti mininus Mitsubishi L-300 yang kerap dipakai untuk angkutan umum pelat hitam, atau biasa disebut ‘mobil omprengan’.

Sepintas saya berpikir, jika spesialis interior yang piawai menyulap kabin MPV atau mikro bus seperti di Indonesia hadir di Bangkok, apakah mungkin mereka tertarik untuk mempercantik bagian dalam kendaraan mereka, terutama bagi sang pemilik armada Toyota Hi Ace yang terbilang banyak berkeliaran di jalanan kota Bangkok. Atau, memang sudah kebiasaan para pemilik armada tersebut membiarkan sarana transportasi yang mereka miliki dalam keadaan apa adanya. Hanya mereka yang tahu… (TON)

Catatan Perjalanan Antonius Sulistyo

Tinggalkan Balasan