home Berita Terkini Alas Roban Mengisahkan Beragam Pengalaman

Alas Roban Mengisahkan Beragam Pengalaman

MobKom-image-Alas-Roban-Mengisahkan-Beragam-Pengalaman
Foto : Istimewa

Bagi para sopir bus dan truk, wilayah hutan Alas Roban di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah ini, sudah sangat akrab di benak mereka. Bahkan kerap terungkap cerita berbau mistis dari pengalaman mereka, yang kerap kali melewati jalur yang dulu terkenal rawan kejahatan itu.

Seperti diungkapkan Bayuaji, salah seorang kernet bus malam antar kota-antar propinsi, kepada Mobilkomersial.com beberapa waktu lalu. Menurutnya, pada musim mudik seperti saat ini, suasana jalur dengan tikungan tajam dan tanjakan serta turunan curam khas Alas Roban, cenderung ramai dan tidak terkesan anker. “Tapi kalau saat hari biasa dan kondisinya sudah malam dan sepi, lumayan bikin bulu kuduk merinding,” jujur Aji sapaannya.

Mungkin perasaan takut Aji tadi berhubungan dengan mitos yang melekat kuat di jalur Alas Roban. Menurut informasi yang berhasil dihimpun dari masyarakat sekitar, kawasan hutan jati itu dulu pernah dikenal sebagai tempat pembuangan mayat korban penembakan misterius (Petrus) di era 1980-an.

Pengalaman tak kalah heboh juga pernah dituturkan salah satu anggota Satlantas Batang, Jateng, yang pernah ditemui Mobilkomersial.com beberapa waktu lalu. Menurut pria yang kerap bertugas di jalur Alas Roban ini, resiko kecelakaan memang cukup besar di jalur tersebut. “Apalagi yang belum paham medan di sini (Alas Roban) tapi cara nyetirnya ugal-ugalan,” tandas pria 30 tahun itu. Kondisi rawan kecelakaan tadi, lanjut anggota Satlantas tadi, juga dipengaruhi oleh kontur medan di Alas Roban yang cukup ekstrem bagi pengemudi amatir.

“Dulu kalau sudah malam, sepanjang jalur Alas Roban sangat gelap karena belum ada lampu penerangan jalan dan masih dikelilingi pohon-pohon jati. Jalannya juga enggak mulus karena banyak tikungan, tanjakan serta turunan curam. Ditambah lagi dengan cerita mistis tentang hantu gentayangan yang kerap terlihat di waktu malam,” beber Aji mengisahkan pengalamannya.

Tidak hanya cerita angker saja, jalan raya Alas Roban dulu juga dikenal rawan tindak kejahatan. Jalur yang berliku dan panjang membuat pengendara takut melewati jalan tersebut sendiri jika malam hari. Lantaran banyak penjahat mulai dari begal sampai bajing loncat.

Tak heran jika dulu para sopir bus malam atau truk berisi muatan logistik, selalu melintas di jalur menikung dan menanjak dengan cara beriringan. “Tujuannya untuk antisipasi kalau-kalau ada bajing loncat atau begal yang berniat menyergap kendaraan,” tukas Aji.

Jika menengok history jalur Alas Roban, jalan Raya ini memang merupakan jalur satu-satunya di kawasan hutan Jati itu, yang dibangun di era pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, Gubernur Jendral Hindia Belanda ke-36 yang memerintah sekitar tahun 1808 – 1811.

Namun sekarang kondisi jalur Alas Roban tak seangker dulu, karena sudah dibangun jalan alternatif bagi pengendara yang ingin menuju Semarang. Ada dua jalan tembus yang dibangun pada 1990-an dan 2000-an. Dan cerita angker maupun imej rawan kejahatan di kawasan itu pun berangsur hilang, lantaran kendaraan pribadi maupun kendaraan komersial seperti truk dan bus semakin ramai melintasi jalur Alas Roban. Kalau merasa lelah berkendara, bisa beristirahat sejenak di banyak rumah makan atau gubuk-gubuk penjaja makanan dan minuman di sepanjang jalur ini.(TON)

Editor : Antonius Sulistyo

One thought on “Alas Roban Mengisahkan Beragam Pengalaman

  1. Dulu memang terkesan gelap dan angker banget. Kalau sekarang sudah ramai. Ramai yang lewataupun yang berdagang. Kampung halaman saya di boyolali. Dan saya domisili saya dijakarta. Jadi sering banget lewat alas roban.

Tinggalkan Balasan