home Berita Terkini, Profil Gagal Jadi TNI, Budi Hartono Lebih Menyelami Dunia Truk

Gagal Jadi TNI, Budi Hartono Lebih Menyelami Dunia Truk

ht2d2ot273f2xxMobKom-Image-Profil-Bercita-cita-Jadi-TNI-Nasib-Membawa-Budi-Hartono-Menyelami-Dunia-TrukAlih profesi sebagai kepala mekanik khusus truk, ternyata dilakoni lantaran faktor kecelakaan. Budi Hartono selaku kepala montir PT Super Buana Jaya di Kebon Jeruk, Jakbar ini, mengaku kalau sebelumnya pernah bercita-cita ingin menjadi anggota TNI.

“Saya juga bingung malah jadi montir, padahal waktu sekolah saya ngambilnya SMEA” tutur pria kelahiran Karang Klesem, Purbalingga, Jateng 38 tahun silam itu. Ia pun kemudian bercerita, bahwa ia mendapatkan segala keahlian dan pengetahuan dalam menangani truk ketika ia bekerja sebagai montir di Bengkulu sejak 1999 hingga 2003 silam.

Pengalaman di Bengkulu tersebut yang membuat ia jatuh cinta dengan truk setelah ia menangai truk-truk besar kategori 3 milik perusahaan batu bara ditempat ia bekerja. “Waktu itu saya memang suka dan yang paling penting saya punya keahlian. Karena tidak bisa kalau hanya mengandalkan ijazah saja, tetapi keterampilan yang saya cari” imbuhnya.

Lepas dari Bengkulu bapak tiga anak ini kemudian hijrah ke Jakarta. Berbekal keahlian yang ditimba selama di Sumatera, ia kemudian bekerja di perusahaan angkutan ekspedisi untuk Unilever yang ia lakoni selama 4 tahun.

Kini pria yang dulu mantap menjalani profesi sebagai kepala montir dengan dibantu 3 orang anak buah, yang menangani tidak kurang dari 100 truk berbagai jenis dari model engkel sampai Fuso.

Kini setelah 6 tahun menjadi kepala montir di SBJ tidak lantas membuatnya dapat berleha-leha. Ia masih kerap terjun sendiri ke lapangan dari sekedar memeriksa, sampai test drive untuk memastikan kendaraan tersebut dalam kondisi prima. “Hal itu untuk terus memantau perkembangan anak buah, seringnya orang kita tidak bisa kalau diomongin harus langsung dipraktekkan,” hematnya.

Ia pun juga tidak segan untuk memarahi sopir yang tidak bisa melihat gejala pada truk. “Sopir juga harus mengerti gejala pada truk, baik itu mesin, rem, sampai masalah angin. Jangan sampai giliran sudah telat baru dikasih ke montir,” tantang Budi.

Pria yang juga mengaku pernah bekerja kantoran di sebuah pabrik di daerah Citereup, Bogor selama empat bulan ini, menekankan pentingnya sikap yang jujur, rajin dan telaten dalam menjalani kehidupan. “Hal tersebut yang membuat kita menjalani hidup dengan gairah,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan